Ada anekdot jika kita menanam tanaman jati, maka yang akan mempanennya adalah cucu kita. Barangkali anggapan itu selama ini benar, karena secara tradisional, pohon jati biasa baru dapat di panen setelah umur 60 tahun, dan bahkan bisa mencapai umur 80 tahun untuk kualitas 1. Namun kini, berkat inovasi teknologi kultur jaringan, ada jenis pohon jati yang mampu tumbuh cepat hanya dalam beberapa tahun saja, anda tak perlu menunggu cucu anda lahir. Apa saja jenis dan keunggulan jati tersebut?

Pohon jati (Tectona grandis,) asal Indonesia dikenal sebagai jenis yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Selain dikenal sebagai jati kualitas nomor satu di Dunia, jati asal Indonesia dikenal punya kekuatan dan keawetan yang tinggi, corak dan tekstur yang indah, serta tingkat pengerjaannya yang mudah. Tak heran, jati asal Indonesia sejak jaman penjajahan hingga sekarang selalu diburu tidak hanya pembeli domestik, melainkan juga pembeli yang berasal dari luar negeri karena harganya sangat fantastis (per kubik bisa mencapai Rp5 – Rp20 juta tergantung kualitas).

Sayangnya, dari tahun ke tahun kebutuhan kayu jati yang terus meningkat tidak diimbangi dengan jumlah ketersediaannya di tingkat produsen. Salah satu faktor penyebabnya karena masa tanam jati yang sangat lama, mencapai 40-80 tahun baru dapat dipanen. Tak heran, budidaya pohon jati termasuk kedalam kategori investasi jangka panjang. Sehingga, tak banyak orang yang melirik usaha tani jati di Indonesia.

Namun kini bagi anda yang ingin menanam jati kini tidak usah khawatir soal lamanya menunggu waktu panen. Melalui pemuliaan tanaman, kini di Indonesia telah ada beberapa jenis pohon jati yang dapat dipanen hanya dalam hitungan tahun. Tak perlu menunggu lebih dari setengah abad, anda sudah bisa memanen tanaman ‘emas’ ini. Apa saja pohon jati hasil inovasi teknologi pemuliaan tanaman yang ada di Indonesia? Berikut beberapa jenis dan deskripsinya.

Jati Plus Perhutani (JPP)

Pada tahun 1976, Perhutani mulai melakukan seleksi kepada 600an jati unggul dari seluruh Indonesia. Dua belas tahun kemudian pada tahun 1988, Perum Perhutani merilis jati unggul jenis baru diberi nama Jati Plus Perhutani (JPP). Jenis ini dikenal sebagai jenis jati yang tahan penyakit, adaptatif di dataran tinggi dan rendah, toleran terhadap lahan marjinal, serta memiliki pertumbuhan dua-tiga kali lebih cepat daripada jati biasa endemik asli Indonesia. Jati JPP dapat dipanen dalam kurun waktu 15 sampai 20 tahun.

Jati Plus Stek Pucuk

Jati Plus Stek Pucuk masih hasil pemuliaan tanaman dari Perum Perhutani. Jenis ini baru ada dua dekade setelah jati JPP ditemukan. Jati ini memiliki karakter yang nyaris sama dengan jati JPP, karena Jati Plus Stek Pucuk merupakan hasil pengembangan dari jati JPP. Dikembangkan dengan menggunakan pembiakan dari sel-sel meristimatis pucuk daun Pohon jati JPP.

Berbeda dengan JPP, Jati Stek Pucuk memiliki sifat batang yang lebih tegak dan lurus, serta mampu merontokkan daunnya sendiri secara alamiah. Jati jenis Stek Pucuk ini dapat dipanen dalam kurun 10-15 tahun saja.

Jati Mega Wanagama

Inilah jati unggul terbaru yang ditemukan di Indonesia. Dirilis pada tahun 2014 lalu, Jati Mega Wanagama dikembangkan oleh Tim Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta. Melalui program pemuliaan pohon sejak belasan tahun lalu menggunakan teknik Silvikultur Intensif (SILIN), jati Mega Wanagama diklaim memiliki keunggulan pohon yang tumbuh lurus, dengan percabangan yang minimal, serta pertumbuhannya yang fantastis (mencapai 10 kali lebih cepat dari jati biasa).

Menurut keterangan yang dilansir dari laman Fakultas Kehutanan UGM, Jati Mega Wanagama dapat dipanen dalam kurun waktu 5-10 tahun saja. Namun sayangnya, saat ini ketersediaan bibit jati tersebut masih sangat sedikit. Dan masih diperbanyak oleh Fakultas Kehutanan UGM agar dapat dikomersialisasi dan digunakan oleh masyarakat luas.