Teknopreneur.com – Penjualan listrik PLN periode Januari-Juni 2016 mencapai 105,96 TWh. Angka ini lebih tinggi 7,82 persen dari periode yang sama pada tahun sebelumnya sebesar 98,27 TWh. 

Bila melihat tren pertumbuhan sampai Juni 2016, pertumbuhannya cukup tinggi dan mengikuti pola pertumbuhan di 2014. Pertumbuhan konsumsi sampai Juni 2016 mencapai 12,98 persen, jauh lebih besar dibanding pertumbuhan sampai Mei 2016 yaitu sebesar 11,25 persen atau naik 1,73 persen.

Namun ini bukan berarti konsumsi listrik kita sudah ideal, karena angka konsumsi listrik per kapita Indonesia 733 kWh/kapita/tahun masih jauh di bawah Thailand, Vietnam, Singapura, Malaysia, dan Brunai.

Kendati memiliki banyak sumber daya energi, kenyataannya Indonesia masih mengandalkan bahan bakar minyak sebagai bahan baku penyediaan listrik. Padahal cadangan energi fosil—khususnya minyak bumi Indonesia juga sangat terbatas.

Kebutuhan bahan bakar cair kita akan meningkat dari sekitar 1,4 juta barel/hari (220 ribu m3/hari) saat ini menjadi sekitar 3,3 juta barel/hari (520 ribu m3/hari) pada tahun 2030, padahal pada kurun waktu yang sama produksi minyak bumi mentah domestik akan menurun/menukik dari 800 ribu barel/hari (127 ribu m3/hari) sekarang menjadi hanya 240 ribu barel/hari (38 ribu m3/hari) pada tahun 2030.

Dengan demikian seharusnya pemerintah lebih memilih melakukan penghematan bahan bakar minyak yang sumbernya memang sangat terbatas ketimbang menghemat listrik. Saat ini kebutuhan teknologi penyedia listrik dari berbagai sumber bahan baka—khususnya bahan bakar cair atau minyak—telah  tersedia dan mapan. Namun belum ada teknologi yang mampu mengkonversi energi listrik menjadi bahan bakar cair.

Menurut Ketua Ikatan Ahli Bioenergi Indonesia, Tatang Hernas kita bisa menyimpan bahan bakar cair sampai jangka waktu yang lama, sementara listrik tidak bisa seperti itu.

“Kalau listrik, ya harus langsung digunakan tidak bisa disimpan dalam waktu lama. Berbeda dengan bahan bakar cair yang bisa disimpan dan digunakan untuk berbagai keperluan termasuk listrik,” ujarnya.

Maka Tatang mengingatkan agar pemerintah sebaiknya menggunakan sumber energy lain untuk pembangkit listrik di luar bahan bakar minyak.

“Pemerintah bisa menggunakan geothermal, biomassa, atau yang lainnya. Biarkan minyak bumi menjadi cadangan kita, harus dihemat. Tapi jika ingin mengejar listrik dalam kapasitas besar dan dalam waktu yang singkat ya gunakan nuklir, gunakan thorium” ujar Tatang.

Tatang memperkirakan teknologi yang mampu merubah listrik menjadi bahan bakar cair baru akan ada antara tahun 2030 sampai 2040. Tapi siapa tahu ada inventor di Indonesia yang sudah bisa membuat teknologi seperti itu dalam beberapa tahun yang akan datang.