Teknopreneur.com-Angin segar sedang berhembus ke para pengembang aplikasi tanah air. Bagaimana tidak, hampir semua stakeholder mendukung tumbuhnya aplikasi-aplikasi lokal tanah air. Mulai dari pemerintah, akademisi, industri hingga asosiasi. Pada hari Sabtu, 23 Januari lalu, para stakeholder berkumpul dalam acara Mobile Developers Gathering (MDG) 2016, membicarakan bagaimana agar aplikasi lokal yang mulai bermunculan bisa bertahan dan bersaing dengan aplikasi global. Bukan hanya itu, para stakeholder pun akan terus mendorong agar aplikasi-aplikasi lokal terus muncul dan berkembang.

Hadir membuka acara MDG, Ketua Badan Ekonomi Kreatif, Triawan Munaf  berjanji akan mendukung aplikasi lokal tanah air. Menurutnya untuk mengembangkan sebuah aplikasi lokal dananya sudah tersedia. “Dananya ada tinggal menunggu ide,”katanya.  Dana yang akan dikucurkan bekraf sekitar Rp3,5 miliar. Selain itu ia berharap untuk sudah ada aplikasi lokal yang lengkap untuk mendukung Asian Games yang akan dilaksanakan tahun 2018 nanti.

Begitu juga Direktur Jenderal Aplikasi Informatika, Kementrian Komunikasi dan Informatika, Bambang Heru, menurutnya pemerintah sangat mendukung dengan mulai bermunculan aplikasi-aplikasi lokal. Targetnya di tahun 2020 akan didirikan 1000 startup, sehingga konsentrasi pemerintah akan ditujukan ke industri ini.  Sementara Menkominfo Rudiantara seusai menemui CEO Google, pun pernah mengatakan hal serupa. Bahwa pemerintah memiliki program memunculkan 200 teknopreneur baru setiap tahunnya sehingga pada tahun 2020, ada 1000 teknopreneur. Dan rencananya akan dibutuhkan dana sekitar US$6-7 juta setiap tahunnya.

Para Developer Harus Bisa Manfaatkan Peluang

Saat dukungan dari berbagai kalangan telah datang, bukan berarti para developer bisa berpangku tangan. Mereka harus menciptakan aplikasi yang memang dibutuhkan oleh masyarakat. Sehingga saat aplikasi itu sudah muncul tak tenggalam. Menurut Co Founder sekaligus CTO Tiket.com, Natali Ardianto, agar aplikasi lokal bisa bertahan di pasaran tak bisa hanya sekali dua kali. “Tak boleh trauma meski berkali-kali gagal,”katanya saat mengisi acara Mobile Developers Gathering (MDG) kemarin (23/1). Dia pun mencontohkan pengalamannya yang gagal di perusahaan sebelumnya yang mengalami kebangkrutan hingga akhirnya mencoba peruntungan di perusahaan ketiga, Tiket.com yang akhirnya sekarang bisa bertahan. Natalie mengatakan pengalaman justru mengajarkanmya untuk bangkit. Dan menurutnya untuk memulai menjadi digitalpreneur tak bisa hanya mengandalkan keahlian dalam membuat aplikasi, tapi juga marketing dan tim yang solid.

Begitu juga dengan Buka Lapak, startup yang bergerak di jual beli online ini mengatakan bahwa memilih rekan bisnis itu harus dipikirkan matang seperti memilih pasangan hidup. Apalagi jika memilih investor itu harus selektif jika tidak selektif bisa-bisa kita justru diperbudak bahkan dimatikan. Menurutnya ada empat cara untuk memilih investor yaitu monetary, kira-kira marketnya besara atau kecil, perencanaanya bagus tidak,   Kedua, Term bagaimana sikap mereka kepada kita, adakah kemungkinan mereka justru akan mendominasi perusahaan sehingga kita hanya menjadi pesuruhnya dan tak bisa menjalankan perusahaan seperti yang kita impikan. Dan ada baiknya kalian memiliki teman dekat legal sehingga kalian mengerti hukum sehingga kita investor tak bisa sembarangan  mengatur kita. Ketiga Skill, bagaiaman dengan pengalaman dan kemampuan calon investor. Dan terakhir network, bagaimana jaringan mereka. Punya network besarkah yang bisa kita jadikan untuk investor selanjutnya.

Selain itu jangan terlalu berharap ada investor yang ingin berinvestasi. Anda sendiri yang memulai untuk menarik investor.  Aplikasi yang kalian buat harus memiliki keunggulan dibandingkan dengan aplikasi lain. Sehingga investor tertarik untuk menginvestasikan. Karena investor itu tak ada yang ingin mengalami kerugian.

Sementara salahsatu sanggota senior APJII, Sapto Anggoro memberi saran agar tidak membuat aplikasi yang pernah ada, apalagi jika aplikasi tersebut sudah terkenal hingga tingkat global.  “Setelah Google jangan pernah membuat aplikasi search engine lagi, setelah Facebook jangan pernah mencoba membuat medsos serupa denganya. Karena Anda pasti tak akan laku, mereka sudah punya nama. Jangan hanya menjadi folllower tapi jadilah startup berbeda,” kata Sapto.

Hal serupa dikatakan oleh Dinoor Susatijo, Senior Manager Open Innovation Management Div Digital Service Telkom Indonesia ini menyatakan bahwa investor tak akan segan memberikan investasi kepada startup yang kendati dari sisi teknologinya tidak unggul namun memiliki inovasi yang memang dibutuhkan masyarakat. Selain itu sebelum terjun ke dunia industri para startup harus bisa menganalisa dan menentukan model bisnisnya sehingga bisa laku di lapangan. Dan berpikir lebih keraslah, apa aplikasi yang dibutuhkan masyarakat sehingga tidak tenggelam,” kata Dinoor. Menurutnya Telkom hampir setiap tahunnya memberikan dana kepada para developer aplikasi lokal yang kriteria memang dibutuhkan masyarakat. Jadi bukan hanya aplikasnya saja yang canggih tapi ternyata tak dibutuhkan.

Pembicara lainnya, Adi Indrayanto menambahkan selain harus mempunyai keunggulan, seorang developer aplikasi pun harus pintar mencari peluang.

“Jika punya aplikasi jangan dipasang di appstore, Google Store sudah ada jutaan aplikasi disana. Jadi hanya mengandalkan keberuntungan jika kalian berniat kesana,” ujarnya.

Untuk itu  Advisory Board Pusat Mikroelektronika ITB ini menyarankan agar startup menghubungi Design house handphone. Dengan demikian aplikasi milik startup local bisa dibundling atau terinstal dalam setiap handphone pabrikan yang dikeluarkan oleh design hous tersebut. Para developer pun jangan langsung berpikir aplikasinya tak akan laku dipasaran, karena saat ini sudah ada peraturan pemerintah bahwa tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) minimal 20-30%. “Jadi apapun itu merek handphonenya, mau dari luar atau dalam negeri pasti membutuhkan aplikasi lokal. Jadi aplikasi lokal pasti akan laku di pasaran,”kata Adi saat  mengisi acara MDG.