Teknopreneur.com-Menjadi inovator di negeri sendiri ternyata tak mudah. Ingin membangun negeri justru di jatuhkan oleh bangsa sendiri. Dirinya memang bukan berprofesi sebagai dokter  sehingga  penemuan dirinya mengenai alat yang bisa menyembuhkan penyakit kanker diragukan oleh orang-orang yang  kebanyakan berprofesi sebagai dokter.

Warsito sama sekali tak berencana, penemuannya akan seheboh ini. Pria yang berprofesi sebagai ilmuwan dan peneliti tomografi ini hanya ingin menyembuhkan kakaknya yang menderita kanker payudara. Berbekal pendidikan S1 dan S2 jurusan Teknik Kimia, S3 Teknik Elektro di Jepang, serta pengalamannya  riset di Amerika Serikat, Warsito P. Taruno menciptakan alat  yang ternyata mampu menyembuhkan kanker kakaknya yang sudah memasuki stadium  empat.

Berita keberhasilan menghancurkan  kanker ganas sang kakak pun menyebar dari mulut ke mulur. Hingga klinik yang awalnya ruko itu juga berkembang semakin pesat, pasien yang datang tak hanya dari luar kota namun juga mancanegara.

Meski Sudah Paten Tetap Ilegal

Semakin banyak pasien yang datang semakin banyak juga yang ingin menghentikan praktek Warsito Seperti surat resmi yang dilayangkan oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan Untung Suseno dalam tertanggal 5 November 2015. Dalam surat tersebut tertulis bahwa “Sampai saat ini PT Edwar Technology (Dr Warsito) belum memenuhi prosedur penelitian sebagaimana Nota Kesepakatan Bersama, yang hasil penelitiannya penting untuk menjamin keamanan/safety atau kemanfaatan/efacacy apabila diterapkan bagi manusia”.

Tak hanya itu di akhir bulan Klinik Warsito pun ditutup karena ada layangan surat dari kementerian kesehatan yang menuliskan bahwa  klinik Warsito tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku yakni Permenkes No 9 Tahun 2014, bahwa istilah klinik hanya  ada yaitu klinik pratama dan klinik utama sehingga penggunaan ‘Klinik Riset Kanker’ tidak dikenal dalam peraturan tentang klinik di Indonesia.

Bagi Warsito menghadapi kontra di negeri sendiri bukanlah hal yang baru di tahun 2013, Warsito pernah batal menjadi pembicara dalam seminar deteksi dini kanker di Hotel Sahid Jakarta, Kamis, 24 Oktober 2013. Karena mendapat protes dari asosiasi dokter Indonesia.

Padahal  penemuannya sudah dipatenkan sejak tahun 2012, namun cap ilegal tetap saja melekat pada penemuannya. Penghargaan juga beberapa kali menghampiri Warsito seperti pada tanggal 5 Mei 2014 agenda Kemenhukham RI  yang menjadikan momen untuk mengoptimalisasikan pelaksanaan dan pemanfaatan sistem HKI di tanah air.

Salah satunya memberikan Anugrah Nasional Hak Kekayaan Intelektual (HKI) tahun 2014 kepada Direktur Eksekutif CTech Laboratories Edwar Technology,Warsito.

Teknolog Indonesia (MITI), menyampaikan bahwa regulasi yang ada di Indonesia belum cukup kondusif untuk membuat hasil riset dan produk inovasi anak bangsa bisa diserap oleh pasar dalam negeri. Meski begitu ia berharap dengan adanya HKI maka karya-karya inovasi anak bangsa terlindungi dan bisa ikut berkompetisi pada pasar yang saat ini didominasi oleh produk-produk luar.

Universitas Kyoto dan CTECH Labs Edwar Technology, Indonesia telah menandatangani kerjasama untuk mengadakan riset gabungan tentang teknologi komunikasi tingkat lanjut dengan mengimplementasikan pencitraan 4D otak dan pengkodean chaos. Kerjasama ini akan mendorong kerjasama riset dalam membangun kapasitas riset tentang kerja otak manusia dan pengembangan teknologi komunikasi maju di masa depan. Kolaborasi riset ini difasilitasi oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia.

Tak Ada Tempat Buat Saya

12 tahun yang lalu hari-hari ini, saya kehilangan data riset saya hasil kerja selama 15 tahun. Komputer laptop terakhir saya ‘crash’ setelah berhari-hari menjalankan program rekonstruksi data pemindaian. Sebelumnya 2 komputer lain yang menyimpan data backup hangus tersambar petir, 2 lagi juga ‘crash’ terlebih dahulu karena tak mampu menjalankan program.

Ketika baru memulai membina riset di Indonesia selama 6 bulan, langit bagaikan runtuh, seolah-olah mengatakan: “Tak ada tempat buat saya di Indonesia.”

Tak ada ‘shock’ yang lebih berat dari itu yang pernah saya alami dalam hidup saya hingga membuat saya seminggu lebih tak mampu keluar rumah.

Tetapi hal itu tak merubah niat saya untuk mencoba membangun riset di Indonesia. Dari puing-puing akhirnya ECVT (Electrical Capacitance Volume Tomography) lahir, hari-hari ini 12 tahun yang lalu di sebuah ruko di Tangerang. Tahun berikutnya paten ECVT didaftarkan di PCT. 3 tahun kemudian ‘granted’. Tahun 2006 ketika polemik sedang panas-panasnya tentang ECVT, NASA memakainya untuk pengembangan sistem pemindaian di pesawat ulang-alik. 2007 jurnal ECVT terbit di IEEE Sensors Journal, dengan alamat Fisika UI. 2008 Dept Energi Amerika memakainya sebagai model sistem pemindaian untuk pengembangan ‘Next generation power plant’ dan untuk verifikasi hasil simulasi supercompter skala penta-eksa.

Di Indonesia ECVT berkembang lebih banyak ke aplikasi di bidang medis, bekerja-sama dengan Fisika Medis UI, Biofisika ITB, Biologi IPB, Litbangkes, Metalurgi Untirta, Kedokteran Unair, Biomedik UIN, Biomedik ITS, Univ. Kyoto dan lain sebagainya. Di Indonesia lahirlah teknologi pertama di dunia: Breast ECVT untuk screening breast cancer secara 4D dan instant, serta Brain ECVT untuk pemindaian aktifitas otak secara 4D dan real time.

Salah satu turunan teknologi ECVT adalah aplikasi untuk terapi kanker, ECCT (Electro-Capacitive Cancer Therapy), didaftarkan paten Indonesia 2012. ECCT dan ECVT adalah setara dengan radioterapi untuk terapi dan CT scan untuk pemindai dengan sumber gelombang elektromagnet pengion. Bedanya ECVT dan ECCT memanfaatkan sifat dasar biofisika sel dan jaringan.

ECVT dan ECCT jelas memberikan harapan besar untuk terapi kanker berbasis gelombang energi non-radiasi. Dengan ECCT misalnya kasus yang sudah tidak ada jalan keluar sebelumnya seperti kanker di tengah batang otak atau kanker yang sudah menyebar ke seluruh tubuh masih mungkin dibersihkan (dibersihkan, tanpa tanda kutip) dengan ECCT.

ECVT dan ECCT bisa dikatakan tak ada referensinya di dunia luar, karena keduanya lahir di Indonesia, pertama di dunia. Sesuatu yang baru sudah pasti akan mengundang kontroversi. Adanya kontroversi itu sendiri justru karena kita mencoba sesuatu yang baru. Tanpa mencoba sesuatu yang baru, tak ada yang akan mengubah nasib kita.

ECVT dan ECCT hanyalah teknologi yang dikembangkan berdasarkan prinsip fisika dan matematis. Kalau bukan saya yang membuatnya, akan ada orang lain yang membuatnya di tempat lain di waktu lain. 12 tahun kemudian sejak pertama kali ECVT ditemukan, hari ini di tempat yang sama saya mendapat surat dari sebuah lembaga agar saya menghentikan semua kegiatan pengembangan riset saya di Indonesia. Haruskah pertanyaan 12 tahun yang lalu perlu diulang: “Tak ada tempat buat saya di Indonesia?”

Itulah tulisan Warsito tanggal 30 November 2015 di akun facebooknya  setelah mendapat surat teguran lagi dari kementerian kesehatan.  Dirinya seakan putus asa karena kliniknya harus ditutup lantaran tak sesuai dengan peraturan Permenkes No 9 Tahun 2014.

Harusnya Diapresiasi Bukan Dicurigai

Surat layangan kemenkes yang meminta klinik Warsito ditutup justru membuahkan banjiran dukungan dari masyarakat Indonesia.  Netizen membuat petisi online di change.org untuk memberikan dukungan kepada teknologi ECVT dan ECCT ini.

Begitu juga dengan Menristek Dikti yang dua kali memberikan dukungan langsung ke  ke CTECH Lab Edwar Technology di Tangerang. Setelah tanggal 11 November tahun lalu, dia kembali mengunjungi nya kemarin 11 Januari 2016.  Menristekdikti, Moh Nasir justru memberikan apresiasi terhadap Warsito yang berhasil menemukan teknogi kelas dunia yaitu electrical capacitance Volume Tomography (ECVT) dan Electro Capacitive Cancer Treatment (ECCT) yang memberikan harapan baru kepada para penderita kanker, tidak hanya di Indonesia, tetapi di dunia.

Menurut Nasir  para peneliti berprestasi yang kembali ke tanah air, seperti Warsito rekan-rekan di Edwar Technology yang menemukan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat dan menjadi terobosan baru di dunia, perlu dirangkul dan  diajak bekerjasama, dan bukan dicurigai, diamputasi maupun dihambat. “Dalam hal penelitian Warsito, Negara akan hadir dan terus mendukung Karya Anak Bangsa. Secara sinergi, kami juga akan terus melakukan pembinaan, aksi mediasi dengan pihak yang terkait, serta mendukung penuh para Inovators di Indonesia, ujar M. Nasir.

Kedepan, Kemenristekdikti bersama Kementerian Kesehatan akan memperkuat kolaborasi dalam memajukan teknologi kedokteran, salah satunya terhadap pengembangan ECVT dan teknologi terapi kanker ECCT ini. Menristekdikti berharap Warsito terus didukung pihak-pihak terkait seperti para dokter dan rumah sakit dapat menerapkan teknologi ECVT dan ECCT ini melalui tahapan proses riset sesuai dengan ketentuan. “Sambil menunggu selesai uji klinis phase 3, alat terapi kanker ECCT ini dapat dijadikan “complementary/alternative treatment” terutama bagi para pejuang kanker yang gagal terapi, yang sudah tidak mempunyai harapan ataupun dikategorikan sebagai tindakan paliatif lainnya, terang Nasir.