Teknopreneur.com- Bondan itulah nama sapi berbobot 512 Kg yang di ternak oleh PT. Karya Anugerah Rumpin (KAR) Menurut Peneliti LIPI Syahruddin Said yang sudah berkerjama sama dengan PT KAR sejak tahun 2009 ini, bobot sapi 500 Kg beberapa puluh tahun yang lalu tentu biasa saja.

“Namun jika ditarik ke dua tahun belakangan dimana bobot sapi rata-rata 200 kg, tentunya bobot sapi tersebut luar biasa. Apalagi jika ada yang mencapai 700 kg, jika jumlahnya banyak maka bisa menutupi kebutuhan masyarakat Indonesia,” terangnya saat ditemui di perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang pembibitan (breeding) dan penggemukan ternak sapi (feedlot).

Tak hanya Syahruddin yang memprediksi bahwa sapi-sapi yang berbobot besar bisa memenuhi kebutuhan Indonesia. Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi , Moh Nasir dan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman pun membayangkan hal serupa.

Saat kunjungan ke PT KAR, Nasir mengatakan bahwa Indonesia tak perlu mengimpor lagi karena kebutuhan diprediksi akan tercukupi dengan sapi lokal. Seperti yang sedang dikembangkan, Sapi Bali dan Madura bobotnya bisa mencapai 500 kg sedang , sapi asal Flores dan Sumbawa bisa  mencapai 600-700 kg. Menurutnya  itu merupakan  nilai tambah yang luar biasa. Dan sekarang tinggal bagaimana caranya agar populasi bisa meningkat di Indonesia.

“Kami sudah memperbaiki genetika hingga F5 bibit dan sudah menjadi semen beku. Dalam satu bulan ada  2000 bibit karena 50 ekor sapi maka bisa menghasilkan 100 ribu semen beku atau sperma. Dan nantinya bukan hanya rumpin yang akan dikembangkan namun juga di NTB,NTT, Jawa Timur, Sulawesi Selatan dan Lampung daerah pengembangan sapi.

 Begitu juga dengan Menpan, Sapi lokal itu lebih mudah beradaptasi dibandingkan sapi impor jadi mudah dalam perawatannya. Selain itu beratnya yang mencapai 700 kg itu sama dengan jenis Sapi Limosin dan Brahman yang biasa Indonesia impor. “Jika di sini saja ada sapi yang bobotnya 700 kg untuk apa kita mengimpor. Dan bukan hanya impor berhenti tapi juga bisa swasembada beberapa tahun lagi karena kebutuhan Indonesia sudah tersedia 82% hanya impor 18%,”terang Amran.

Impor Bisa Berhenti Asal Manajemen Diperbaiki

Teknologi IB Sexing memanfaatkan sperma genetik dari satu ekor sapi pejantan unggulan. Sehingga normalnya satu ekor sapi jantan sekali ejakulasi hanya bisa membuahi satu ekor sapi betina namun dengan IB sexing yang membekukan sperma unggul sapi jantan bisa membuahi 500 ekor betina.

Sedangkan dengan teknologi Embrio Transfer dengan mengambil sel ovarium dari sapi betina unggul yang dapat diletakkan ke sapi betina lainnya. Dengat transfer 1 sel telur dari sapi betina unggul diambil ovariumnya dan dapat ditaruh di rahim 250 ekor sapi betina. Dengan teknik ini sifat sapi yang lahir akan mengikuti sang induk yang unggul. Misal sang induk berkulit putih maka anaknya akan berkulit putih juga. Dengan diterapkannya dua teknologi tersebut dalam satu tahun dapat diprediksi bisa menghasilkan 1.500 ekor lebih anak sapi.

Menurut Syahruddin, teknologi yang sudah diterapkan oleh PT KAR dengan LIPI  selama tujuh tahun ini sebenarnya mampu menghentikan impor daging di Indonesia asalkan manajemennya diperbaiki. Karena Indonesia sendiri sebenarnya sudah lengkap semuanya, lahan, dana, dukungan pemerintah tinggal regulasi dibuat dan manajemennya diperbaiki.

Minggu depan rencananya antara Menteri Pertanian, Menristekdikti dan Pemda Jakarta akan segera membuat regulasi agar impor yang prediksinya tiga tahun lagi bisa 100% berhenti terwujud.  Dihadapan awak wartawan Nasir secara langsung meminta kepada Menteri pertanian agar bisa menyediakan indukan, sedangkan kemenristek sendiri akan menyediakan bibitnya. Sedangkan untuk lahan, ia meminta agar wakil gubernur yang menyediakannya.

Menpan sendiri menyanggupi permintaan dari Menristekdikti. Ia pun mengatakan sudah menganggarkan 2,8 triliun untuk rencana ini. Ia pun berjanji agar regulasi benar-benar diperketat. Jadi jika ternyata prediksi salah dan harus impor daging, impor karena kepentingan bukan karena kebutuhan.

Begitu juga Wakil Gubernur, Djarot Saiful Hidayat, ia berjanji akan melibatkan Perum Perhutani untuk bisa mendapatkan lahan yang luasnya sekitar 1000 hektar  dan letaknya tak jauh dari PT KAR.  Djarot pun menambahkan jika kebutuhan Dki Jakarta bisa teratasi maka kemungkinan besar kebutuhan daging di Indonesia bisa teratasi juga. Karena 70% kebutuhan ada di ibukota.