Teknopreneur.com-Kecelakaan biasanya terjadi secara tiba-tiba. Jika salah mengambil tindakan korban bisa patah tulang.  Biasanya cara mengatasi patah tulang dengan menggunakan bidai yang terbuat dari kayu atau bambu. Namun sayangnya bidai ukurannya terkadang tidak sesuai dengan tulang korban. Akibatnya patah tulang korban bisa bertambah parah.

Terinspirasi dari hal tersebut maka dr. Ade Candra Wijanadi CEO Patriat Medical dan Devices bersama timnya  membuat Puzzle Splint, inovasi bidai farktur tulang multifungsi dan adaptable dengan sistem perekat Hook dan Loop yang bisa digunakan berulang dan dapat disterilisasi.

Puzzle Splint terinspirasi dari bentuk suatu bidang bersusun atau puzzle dan konsep penempelan anggota gerak pada reptilia geckow atau tokek. Produk ini dirancang berdasarkan kekurangan dari bidai konvensional yang memiliki karakteristik dimensi dan panjangnya bervariasi menyebabkan tenaga medis lebih sulit dalam menentukan dan menyediakan ukuran bidai yang sesuai dengan tubuh.

Bahan penyusunnya yang 100% buatan Indonesia ini terdiri atas kayu block board yang dilapisi spons dan kulit latex. Adapun keunggulan dari inovasi ini yaitu ukuran tiap unit puzzle splint yang universal sehingga dapat disusun berdasarkan panjang yang dibutuhkan fraktur atau tulang yang retak.

Kedua Puzzle Splint compatible untuk X-Ray, CT Scan dan MRI karena bahan dasar menggunakan bahan yang tidak memblok sinar X sehingga proses foto X-ray dapat dilakukan dengan baik tanpa perlu melepas splint yang telah terpasang pada pasien.

Ketiga, Puzzle Splint memiliki sifat hypoalergenic pada kulit pasien karena menggunakan bahan kulit latex pada lapisan pelindung splint yang bersifat Hypoalergenic memiliki potensi alergi yang sangat rendah sehingga cocok untuk berbagai jenis kulit pasien.

Keempat, Puzzle Splint dapat distertilisasi dan bersifat reuseable karena produk bisa dicuci kembali dengan air steril sehingga bisa kembali sterul dan bisa digunakan berulang-ulang hingga lebih dafri tiga tahun.