Aplikasi yang Diakusisi Asing itu Bukan Dikembangkan Tapi Justru Dimatikan

286
Ilustrasi Digital
Ilustrasi Digital

Teknopreneur.com-Indonesia sepertinya menjadi negara yang ramah bagi para developer asing. Bagaimana tidak jika Indonesia secara tak sadar sudah menyumbang 14 Triliun Rupiah untuk aplikasi global. Facebook sebesar US$ 500Juta, Twitter mencapai US$180juta, dan Linkedin mencapai US$90 juta.

Itu adalah hasil dari pengguna internet yang jumlahnya mencapai 88.1 juta dari 252.4 juta total jumlah penduduk Indonesia merupakan penggunakan internet dengan tingkat penetrasi 34.9%. Tingkat penyebaran tertinggi ada di Jawa dan Bali yaitu 52 juta pengguna, Sumatera 18.6 juta pengguna, Sulawesi 7.2 juta pengguna, Kalimantan 4.2 juta pengguna serta NTT, Papua dan Maluku mencapai 5.9 juta.

Menurut Sarwani Dwinanto, Kabid. Content & Ecosystem  APJII, saat membuka acara di Bandung Digital Valley (14/12)  mengatakan Indonesia sebenarnya bisa menjadi pasar untuk negara sendiri. Aplikasi buatan anak Indonesia tak kalah canggihnya dengan aplikasi buatan asing. Namun sayang karena dukungan yang kurang aplikasi tersebut tak berkembang. Dan ada yang berkembang kemudian diakusisi oleh pihak asing. Tapi bukannya berkembang mereka justru dimatikan. Investor asing tentunya tak ingin aplikasi mereka tersaingi.  Sehingga mereka mencoba dengan cara yang halus mendekatinya.

Oleh sebab itu dibutuhkan suatu wadah untuk memperkuat ekosistem digital nasional agar aplikasi-aplikasi lokal yang sebenarnya  bisa bersaing dengan asing tidak mati di tengah jalan. Liga Digital Indonesia lah misalnya.

Liga yang dibentuk atas kerjasama antara Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), Masyarakat Industri Kreatif Teknologi Informasi dan Komunikasi IndonesiA (MIKTI), Klik Indonesia, dan Teknopreneur Indonesia membentuk Liga Digital Nasional ini dibentuk memang bertujuan untuk memunculkan aplikasi-aplikasi nasional unggulan yang selanjutnya didorong agar dapat bersaing dengan aplikasi-aplikasi global yang selama ini mendominasi pasar nasional.

Serupa dengan Sarwani Adie Marzuki, CEO Teknopreneur Indonesia  mendukung diselenggarakan Liga Digital Indonesia ini. ”Mau sampai kapan Indonesia menjadi konsumen? Indonesia bisa kok menjadi produsen. Karena aplikasi buatan Indonesia yang saat ini terdaftar di Liga tak kalah dengan buatan luar,”tuturnya.

Ia pun mengatakan Indonesia tak boleh bergantung lagi dengan pihak asing. Liga akan mendukungnya. Mulai dari penyediaan platform bagi peserta, sehingga dapat membantu peserta di tahap awal masuk ke pasar. Kemudian memfasilitasi pemenang dengan pemberian kesempatan memperoleh publikasi luas, investasi, inkubasi bisnis, hingga pre-install di smartphone lokal.