Teknopreneur.com– Di tengah bencana asap, alat penyaring asap buatan Profesor I Gede Wenten sepertinya membawa angin segar bagi masyarakat Indonesia, khususnya bagi para korban asap.

Sang ahli membran yang temuannya telah banyak dipatenkan dan diakui di tingkat nasional maupun internasional ini membuat alat bernama Fresh On 2015 yang bermakna menyegarkan oksigen dan nitrogen di tahun 2015. Alat ini diharapkan partikel beracun yang disebabkan oleh asap dan sudah masuk ke dalam rumah-rumah sehingga  dapat disaring dan menjadi bersih kembali.

Menurut alumni terbaik ITB tahun 1982 ini, alat penyaring yang dia buat berbeda dengan alat penyaring biasanya yang sulit jika untuk menyaring partikel asap kebakaran hutan. Fresh On bisa memisahkan partikel asap meskipun ukurannya sangat kecil. Karena  terbuat dari membran polipropilena hidropobik yang diletakan dalam tabung berwarna putih. Kecanggihan alatnya terdapat dalam membran yang berdiameter pori yang sangat kecil yaitu 50 nanometer. Jadi bisa memisahkan partikel racun meski racun tersebut ukurannya sangat kecil.

Cara menggunakannya alat ini dsambungkan dengan alat pemompa udara atau konpresor. Untuk jenis dan ukurannya tergantung kebutuhan,  bisa dengan diesel, aki mobil hingga pompa sepeda yang djgunakan manual. Untuk menyambungkan ke konpresor jangan sampai terbalik, jika tidak maka udara kotor tak akan tersaring.

Jika semburan udara dari Fresh On semakin kecil bertanda alat ini harus segera dibersihkan. Namun membersihkan tidak boleh dicuci dengan air karena akan merusak Fresh On. Untuk membersihkannya  Wenten menganjurkannya dengan melainkan dengan mendorong balik arah kotoran dengan mesin blower.

Saat ditemuin dalam acara penganugerahaan untuk alumni ITB yang berprestasi, I Gede Wenten mengatakan bahwa untuk membuat Fresh On memang hanya satu hari namun untuk ia butuh 25 tahun untuk mempelajarinya. “Jadi membuatnya tidak langsung jadi seperti media-media beritakan, saya memang sudah punya ilmunya dan saat Imam Prasodjo meminta saya membuat alat untuk musibah asap yang menimpa saudaranya, saya langsung coba buatkan dan ternyata berhasil,” terang dosen Teknik Kimia ITB ini.

Dan  Fresh On, kini sedang dalam proses pembuatan sekitar 10.000 alat. Untuk harga sendiri terbilang mahal Rp 250.000/alat,  Wenten sendiri berharap ia bisa memberikannya secara gratis ke korban, namun jika membuat alatnya hingga 10.000, ia mengakui tak sanggup karena memang bahan untuk membuatnya mahal.

Sehingga ia berharap pemerintah yang mensubsidinya sehingga saat dikirim ke masyarakat yang membutuhkan bisa gratis. Sehingga Wenten bertangan terbuka saat Ridwan Kamil, walikota Bandung memesan secara langsung alat tersebut untuk dikirim ke masyarakat yang terkena dampak asap. “Sebagai walikota Bandung saya memesan alat buatan Pak Wenten untuk dikirim ke Kalimantan dan Sumatera. Karena jika menggalang dana untuk apa, yang dibutuhkan mereka disana alat pernafasan bukan uang,”kata Kang Emil, saat bertemu Wenten diacara penganugerahaan untuk alumni berprestasi di almameter mereka, ITB. Selain  Walikota Bandung, juga sudah ada kalangan pemerintah daerah dan pusat  yang turut memesan alatnya.