Berharap Juara GICA Buat Perubahan di Indonesia

415
Ilustrasi Digital
Ilustrasi Digital

Teknopreneur.com – “Karena tak semua orang pintar mau berbagi. Tak semua inovator mau mengabdi, tak semua inovator mau memberikan ilmunya apalagi di tengah kesulitan ekonomi yang mendera negara ini. Kebanyakan inovator berusaha mempertahankan dirinya dari kesulitan ekonomi. Sehingga mereka lupa bahwa ilmu yang mereka punya sebenarnya bisa memberi perubahaan di negeri ini.” Itulah yang disampaikan oleh Walikota Bandung, Ridwan Kamil semalam,30 Oktober 2015, saat memberikan sambutan di acara Ganesha Innovation Championship Award 2015 (GICA) di Balai Kota Bandung.

GICA adalah penghargaan untuk alumni ITB yang berhasil melakukan pengembangan masyarakat (sosial, ekonomi, budaya) dengan inovasi yang dimilikinya dan berpotensi dikembangkan lebih lanjut. Penghargaan yang memasuki tahun ketiga ini diselenggarakan dalam rangka memberikan inspirasi dan mendorong budaya inovasi di kalangan alumni ITB.

Alumni ITB yang juga menjadi Juara GICA di tahun 2013 ini mengatakan jika para inovator-inovator tersebut mau berkolaborasi  dengan sesama inovator, akademisi dan industri buka tak mungkin jika bisa memberikan perubahan di negeri ini.  Ridwan berharap para Juara GICA tahun ini dan tahun-tahun sebelumnya bisa terus berkontribusi untuk membangun negeri ini.

CEO Wardah, Juara GICA

Siapa sangka keputusan Nurhayati Subakat untuk resign dari pekerjaanya dan memilih berbisnis di rumah saja sambil mengurus anak justru membuat kariernya berkembang. Perusaahaan yang tenar dengan merek WARDAH ini menjadi top brand untuk produk kosmetik di Indonesia.

Namun tak mudah bagi Nurhayati mengembangkan usahanya apalagi saat musibah kebakaran yang dialami pabriknya. DIa harus memulainya dari nol. Dia tak mau usahanya terhenti karena karyawannya menggantungkan nasibnya.  Tapi karena keyakinannya Allah akan menolongnya, bisnisnya justru semakin berkembang dan sudah memiliki 8500 karyawan.

Dedikasi Nurhayati sepertinya patut diberikan penghargaan karena tak semua inovator itu mau mengabdi kepada mayarakat. Biasanya mereka lebih ke arah bisnis mencari untung yang banyak. Apalagi di Indonesia agak sulit berprofesi sebagai inovator. Sehingga di ajang ini Nurhayati patut diberi penghargaan Gold, menjadi juara pertama di ajang GICA.

Nurhayati sebenarnya tak tahu jika dirinya diajukan sebagai finalis GICA   bersama ketiga alumni lainnya yang terdiri dari, Andini Warih Wedaringtyas (Biologi 2007), Gibran Chuzaefah Amsi El farizy (Biologi 2007), dan Elin Yulina Sukandar (Farmasi 1971). Mereka berempat mengalahkan 30 kandidat yang telah direkomendasikan oleh masyarakat yang dikemudian diseleksi  administrasi menjadi 10  kandidat dan akhirnya empat kandidat.

Dari Gadis Kota Mengabdi di Desa Hingga si Juara di Berbagai Negara

Juara kedua GICA atau peraih perak di dapatkan oleh Andini, gadis Ibu kota yang memilih mengabdi di desa.  Karena miris melihat petani desa yang kehidupannya dibawah garis kemiskinan jauh dari taraf hidup di ibukota. Pengabdiannya berawal  dari melihatn banyaknya petani nanas yang membuang nanas-nanas yang berukuran kecil dengan alasan tak laku di pasaran. Membuat Andin berpikir keras bagaimana agar buah nanas tersebut bisa dijual dengan harga mahal. Akhirnya ia pun membuat minuman nanas di Desa Jabong, Subang, dengan melibatkan sekitar 30 ibu rumah tangga di daerah tersebut.

Selain itu ia pun mengembangkan inovasi bernama Biosorp Tech, teknologi pengolahan air tercemar logam berat menjadi air yang layak pakai untuk keperluan sehari-hari. Inovasinya ini sudah dimanfaatkan oleh 200 KK di Kawasan Rancaekek, Bandung daerah yang banyak tercemar oleh limbah industri tekstil dan Rawa Kidang Tanggerang yang kekurangan air bersih.

Sedangkan untuk peraih perunggu ada dua orang pertama , Gibran Chudzaefah Amsi El Farizy. Sepertinya Indonesia patut berbangga kepada alumni lulusan Biologi ini. Pasalnya  beberapa kali mengikuti perlombaan, berulang kali menang tak tanggung-tanggung menjadi juara pertama. Mulai dari Mandiri Young Technopreneur, INAICTA, Get In The Ring dan Seed Star Indonesia dan terakhir eFishery mendapatkan investasi pra-seri A dari Aqua-spark, dana investasi berbasis di Belanda, dan modal ventura asal Indonesia bernama Ideosource.

Pemuda berusia 26 tahun ini berhasil membuat inovasi eFishery, alat untuk mengukur nafsu makan ikan dengan menggunakan sensor. Sehingga alat ini dapat memberikan pakan dalam dosis yang dibutuhkan. Didesain untuk peternak skala kecil dan besar, sistem eFishery bisa menangkap nafsu makan, mendistribusikan makanan secara otomatis, dan memberikan laporan konsumsi makanan di smartphone peternak secara real time.

Tak Semua Orang Mampu Beli Obat

Itulah yang membuat Prof Elin Yulinah Sukandar, dosen Farmasi ITB tak segan-segan mengajarkan cara membuat obat herbal kepada masyarakat.  Tak sedikit masyarakat menghubunginya hanya untuk menanyakan resep obat herbal.

Dosen Farmasi ITB ini berhasil menemukan obat herbal yang dijadikan sebagai  obat penunjang penyakit TBC dari bahan jahe dan mengkudu, serta obat herbal anti kolesterol dan hipertensi dari bahan kunyit dan bawang putih. Meski belum diperbolehkan oleh pemerintah untuk menjadikan inovasinya sebagai obat pengganti, namun Elin yakin suatu saat obatnya akan menggantikan obat kimia yang sekarang beredar di pasaran.

Semalam Elin mendapatkan penghargaan perunggu GICA bersama Gibran. Sebelumnya ia pun menerima penghargaan nasional Hak Kekayaan Intelektual 2013 dari Kementerian Hukum dan HAM.Dan kini Ia juga turut aktif berkerjasama dengan lembaga farmasi di Indonesia untuk mengajak masyarakat mengkampanyekan obat asli Indonesia yang kini sudah dilirik Amerika.

Bukan Sekedar Berinovasi Namun Juga Mengisnpirasi

Ternyata bukan hanya Walikota Bandung saja yang berharap para juara GICA menjadi ajang perubahan. Para dewan juri pun sempat berdebat cukup panjang ketika memutuskan siapa yang pantas menjadi pemenang. Karena menjadi inovator selain mau mengabdi pada masyarakt juga sebagai pemberi inspirasi.

Dari keempat finalis tersebut, sosok Nurhayati  mendapatkan skor tertinggi oleh Penggagas GICA Indra Utoyo (Direktur Inovasi dan Strategi Portofolio PT Telkom), dan para dewan juri yang terdiri dari dewan juri yang terdiri dari Erzi Agson Gani  (Deputi Kepala Bidang Teknologi Industri Rancang Bangunan dan Rekayasa BPPT), Adi Sufiadi Yusuf (LEN Indonesia),  dan Melia Famiola (ITB).  Karena perjuangan Nurhayati dari nol hingga bisa menguasai 50% pasar Indonesia, yang tadinya hampir dikuasai oleh perusahaan kosmetik asing seperti Unilever.

Meski Nurhayati menjadi juara, keempat dewan juri tetap berharap, para finalis GICA tetap  berinovasi  dan mengabdi sehingga bisa menginpirasi para alumni ITB lainnya untuk berkontribusi untuk perubahaan yang lebih baik di negeri ini.