Teknopreneur.com – Penerbangan perdana N-250 menjadi tonggak sejarah peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas). Prototipe N-250 yang  dirintis sejak BJ  Habibie menjadi Menteri Riset dan Teknologi pada era 1980-an ini N-250 kemudian dikembangkan pada tahun  1992. N-250PA1 dengan sandi Gatotkaca, yang dapat memuat 50 penumpang terbang perdana selama 55menit pada tanggal 10 Agustus 1995.

Kebanggaan tak terukir 20 tahun yang lalu seolah menjadi menandakan bahwa Indonesia bisa berdiri sendiri tanpa harus bergantung dengan luar negeri. Namun sayang karena terseret arus politik, pesawat yang dinamai Gatotkaca tersebut yang sudah melalu berbagai perjuangan dan kerja keras oleh International Monetary Fund (IMF) itu dipaksa untuk dihentikan.

20 tahun telah berlalu, meski ada kekhawatiran bernasib sama namun  anak bangsa Indonesia seolah tak mau redup berkarya.  Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional (LAPAN) berkerjasama dengan Pt Dirgantara Indonesia  membuat  kembali pesawat bernama N219.

Pesawat tersebut  dibuat karena kebutuhan transportasi di wilayah perintisi Indonesia. Sulitnya transportasi ke sana membuat disparitas harga. Harga beras yang di daerah Jawa hanya Rp8.000 bisa Rp800.000 di daerah Papua. Dari sana PT Dirgantara Indonesia di tahun 2004, ingin membuat pesawat yang sederhana, murah namun bisa memenuhi kebutuhan.

Menurut Agus Ari Wibowo, Kepala Program N219 LAPAN, N219  ini sudah dilakukan beberapa kali tes model pesawat. Dan di tahun 2014, Bappenas melihat pesawat ini sepertinya bagus dan menguntungkan dari segi bisnis. Karena masih dalam bentuk prototype pun pesawat ini sudah banyak peminatnya dari dalam maupun luar negeri. Sehingga pemerintah lewat Bappenas pun mengucurkan dana untuk  proyek pembuatan pesawat ini.

Anggaran yang dibutuhkan di tahun 2014 membutuhkan Rp310 milyar, 2015-2019  kemungkinan Rp 90 milyar. Karena hingga tahun 2019, pesawat ini akan terus  dikawal oleh kami agar bisa lolos sertikasi agar bisa diproduksi massa. Saat ini masih dalam uji model 1 dan 2, akan diprediksi terbang perdana tahun Februari 2016.

Diawal untuk mengembangkan ini memang kesulitan dana namun itu bisa diatasi, namun untuk saat ini yang agak sulit seperti kebutuhan tenaga kerja. Sejak peristiwa N250, tenaga kerja PT Dirgantara Indonesia menyusut tajam.

”Sumber daya manusia yang dibutuhkan untuk mengerjakan ini berkisar 500-600 orang namun kami hanya memiliki 300 orang. Memang saat ini mendapat suntikan tenaga kerja baru, namun mereka masih awam sehingga harus diajarkan dari nol,”terang Manajer Program N-219 PT Dirgantara Indonesia Budi Sampurno.

Selain itu prototype pesawat yang sudah dipesan oleh negara Thailand tersebut baru 40% mengandung Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), 60% nya masih impor.

Meski banyaknya hambatan dan kekhawatiran diawal, namun banyak pihak yang berharap N219 tidak bernasib sama dengan N250, termasuk BJ Habibie dan Presiden RI Jokowi, menurut mereka jika N219 ini berhasil bukan hanya transportasi ke daerah terpencil saja yang lebih mudah namun harga barang-barang sembako bisa lebih murahk. Karena dengan N219, waktu yang ditempuh hanya 30-60 menit tidak sampai 6jam seperti biasanya. Sehingga bisa menghemat bahan bakar.