Jika Mengandalkan Lapangan Pekerjaan, Kapan Sejahteranya Indonesia?

359
Ilustrasi Dinamika
Ilustrasi Dinamika

Teknopreneur.com- “Ayo kita berwirausaha, jangan hanya mengandalkan lapangan kerja. Kalo jadi bankir Cuma bisa menyerap satu tenaga kerja tapi kalo jadi pengusaha bisa menyerap empat hingga lima tenaga kerja, ajak Direktur Utama Bank Mandiri.

Menurut Budi, gerakan yang dicanangkan bersama dengan Menteri Koperasi dan UKM bukan sekedar gerakan semata. Di tahun 2009 kami membangun kurikulum dengan kementerian pendidikan agar bisa dipakai di perguruan-perguruan tinggi.  Kemudian di tahun 2012 masuk ke pesantren-pesantren. Di sembilan pesantren untuk memberikan pemahaman wirausaha mandiri. Kemudian di tahun 2013, mulai melakukan program inkubasi.

“Tak hanya itu, kami berpikir bahwa pengusaha sukses harus punya etika yang bagus maka kami meminta Rhenald Kasali pelopor Rumah Perubahan untuk.membimbing mereka. Sehingga 10-15 tahun lagi bisa main dam-dam man atau cublek-cublek sueng yang asli dari Indonesia. Kami berharap 10 tahun lagi ratusan penduduk Indonesia pesen kopi bukan di Starbuck tapi pesen kopi luak dari Indonesia, “terang Budi saat acara penganugerahan Mandiri Young Technopreneur di JCC Senayan.

Menteri Menteri UMKM A.A.G.N Puspayoga pun berharap hal yang sama. Menurutnya Indonesia potensi alamnya sngat luar biasa, sayangyna semua pangan masih impor. Beras, kedelai, gula, daging, dan susu.. kebutuhan susu Indonesia 6jt liter, sementara baru1,5 juta liter yang bisa diproduksi indonesia.

Begitu juga dengan kebutuhan kedelai yang mencapai 3.300 ton, tapi Indonesia baru mampu menyediakan 800 ton. Swasembada yang dicanangkan di pemerintahan ini diharapkan bisa tercapai sehingga bisa mengurangi impor dan menngkatkan ekspor. Jadi jika jumlah pengusaha meningkat otomatis lapangan kerja pun bertambah.

Dengan semakin banyaknya lapangan pekerjaan tentu mengurangi jumlah pengangguran. Dengan begitu perekonomian meningkat. Jumlah Wirausaha indonesia  saat ini baru 1,65%dari total jumal penduduk 250juta.. Idealnya meningkat hingga 2%. Indonesia kalah dengan Singapura yang mencapai  7% dan Malaysia 5%. Sehingga enterpreneur dan teknopreneur harus ditingkatkan, karena pemerataan berbanding lurus dengan jumlah keduanya. “Karena tidak mungkin kesejahteraan dapat merata apabila jumlah entrepreneur yg masih minim,” katanya.

Laporan Agung dan Lutfi

.