Teknopreneur.com- Banyak peristiwa penting terjadi di tahun 2014 dalam dunia e-Commerce Asia Tenggara. Tahun lalu, wilayah ini menerima banyak sekali kucuran pendanaan, seperti pendanaan senilai US$249 juta (Rp3,14 triliun) yang didapat SingPost dari Alibaba, US$100 juta (Rp1,2 triliun) yang didapat Tokopedia, dan dana US$250 juta (Rp3,15 triliun) yang diperoleh Lazada. Meski begitu Asia Tenggara masih dikatakan berada di awal perjalanan ritel online.  

Banyak orang Asia Tenggara lebih cenderung melakukan browsing melalui gadget tapi hanya sedikit yang akhirnya melakukan pembelian. Menurut pengamatan aCommerce di pasar ini, Singapura sudah tidak memberi keuntungan dibanding pasar lainnya, seperti Indonesia dan Thailand. Menurut kalian apa saja ya yang akan terjadi di bisnis e-Commerce untuk Asia Tenggara di tahun ini. Mari lihat prediksinya!

1. Tahunnya merger dan akuisisi

Jika 2014 menjasi tahun dimana banyak dana yang dikucurkan di Asia Tenggara, maka tahun 2015 akan menjadi tahun dimana startup mulai kehabisan tenaga atau kapasitas untuk memanfaatkan potensi pertumbuhan organik yang besar di wilayah ini. Mengapa? Karena ritel business-to-consumer (B2C), khususnya di negara seperti Indonesia dan Filipina, membutuhkan banyak modal. Hal ini kemungkinan akan mendorong konsolidasi di ranah B2C pada tahun 2015 dan seterusnya.

Kedua, dengan terus masuknya modal, perusahaan B2C diharuskan mempercepat pertumbuhan mereka dengan mengakuisisi atau merger dengan pemain lain di ranah ini. Ranah e-Commerce B2C masih terfragmentasi tetapi pendatang awal seperti Lazada, dengan banyaknya dana, sudah memimpin di depan dan membuat kompetisi jauh lebih sulit bagi pemain yang lebih kecil.

Di Thailand misalnya telah terjadi koalisi e-Commerce Lazada Thailand dengan perusahaan seperti Whatsnew, Wear You Want dan MOXY yang bekerja sama untuk tetap tetap bisa bersaing. Di Indonesia, Lazada merambah fashion dengan label LZD. Mengapa Lazada tidak bergabung dengan Zalora? Bayangkan skala ekonomi dan penghematan yang bisa dilakukan, karena jika bergabung maka hanya membutuhkan usaha marketing untuk satu website dan mengaktifkan hanya satu basis pengguna

2. Instansi Digital harus beradaptasi. Atau lenyap.

Instansi pemasaran digital sudah menyadari bahwa selama bertahun-tahun bahwa e-Commerce adalah yang masih terus berjuang mengembangkan produk dan layanan e-Commerce untuk para klien. Agensi digital tidak memiliki struktur insentif, budaya, dan bakat yang tepat untuk membuat hal ini terjadi, sebagaimana yang diutarakan Sheji Ho, aCommerce Group CMO bahwa ketika aCommerce menyaksikan Huawei memilih divisi pemasarannya dibanding agensi tradisional lain, atau ketika Uber dan Kiehl’s bermitra dengan agensi pemasaran ini.

“Tanpa mengubah model bisnis, mereka akan kehilangan bisnis mereka untuk agensi yang berfokus pada e-Commerce seperti kami,” ujar Sheji Ho

3. Ranah marketplace akan makin sesak

Didasari oleh IPO Alibaba senilai US$ 25 miliar, banyak perusahaan ingin mendirikan marketplace mereka sendiri. Selain pemain lama seperti Lazada dan Rakuten, kita akan melihat perusahaan telekomunikasi, perusahaan media, bank, serta retailer B2C memasuki ranah ini.

Menurut CEO Lazada Max Bittner, 70 persen barang Lazada berasal dari penjual pihak ketiga. Perusahaan-perusahaan ini mencari cara tambahan untuk menghasilkan nilai dari basis pengguna mereka di luar value-added services biasa. Masuknya tambahan modal, yang paling terkenal adalah investasi dari Softbank ke Tokopedia, akan mengakibatkan persaingan yang sengit di ranah yang sudah sesak ini.

Menurut Paul Srivorakul, Executive Chairman Grup CEO & Ardent aCommerce Modal dengan semakin memanasnya model marketplace, brand harus mampu menerapkan pendekatan omni-channel terhadap ritel dengan memastikan bahwa produk mereka tersedia di semua platform tersebut. Berinvestasi dalam aspek teknologi atau mitra untuk mendistribusikan produk secara lancar akan menjadi pembeda utama untuk kesuksesan para brand pada 2015.

 4. E-Commerce lintas negara akan semakin pesat berkat AEC

Asean Economic Community (AEC) diprediksi menjadi salah satu tren penting yang akan membantu mempercepat e-Commerce lintas negara pada tahun 2015 di seluruh Asia Tenggara melalui kemampuan logistik yang lebih baik.

Perusahaan seperti Amazon dan ASOS sudah melihat negara-negara Asia Tenggara seperti Singapura, Thailand, dan Indonesia sebagai pasar yang tumbuh tercepat di Asia. Sebagai contoh, ShopBop milik Amazon baru-baru ini melakukan promosi Black Friday/Cyber Monday lintas negara dengan Line dan aCommerce.

Seiring stabilnya pasar China, perusahaan China seperti Alibaba dan JD kini melirik pasar Asia Tenggara, seperti yang dikatakan Paul Srivorakul untuk terus tumbuh Alibaba harus berekspansi ke pasar lain dibanding terus berkutat di pasar China yang kejam.

5. Evolusi demografis: entrepreneur asing akan membanjiri pasar Asia Tenggara

Setelah China dan India, Asia Tenggara mungkin adalah pasar paling tepat di Asia sebagai tempat bekerja bagi pekerja di ranah e-Commerce dan teknologi. Tahun lalu banyak entrepreneur asing ingin bekerja di Asia Tenggara, sedangkan di masa sebelumnya wilayah ini hanya bisa secara aktif merekrut orang asing. Tren ini akan berlanjut pada tahun 2015 karena Eropa masih terus berjuang dan pemulihan ekonomi di AS masih akan berlangsung dalam beberapa tahun.

6. Uber untuk logistik dan Uber untuk “ini” dan “itu”

Uber bisa dibilang sudah seperti sebuah marketplace. Startup ini dikatakan sudah seperti crowdsourcing – menghubungkan pembeli dan penjual. Satu-satunya perbedaan adalah bahwa Uber merupakan sebuah aplikasi dan 2015 akan menjadi tahun dimana Uber dan GrabTaxi akan lebih serius merambah bisnis logistik. Amazon sudah menguji pengiriman via Uber. Uber juga baru bermitra dengan Kiehl’s dan aCommerce untuk mendistribusikan produk Kiehl’s ke pengemudi Uber di Bangkok.

Sementara GrabTaxi beberapa waktu lalu mendapatkan pendanaan sebesar USD 250 juta (atau sekitar Rp 3,15 triliun) dari Softbank, sedangkan Uber memiliki dana sebesar USD 2,7 miliar (atau sekitar Rp 34,1 triliun) di pihaknya.

Selain itu, Uber juga akan menerima USD 600 juta (Rp 7,58 triliun) dari Baidu untuk mendorong ekspansi Asia-nya. Semua dana tersebut akan meningkatkan persaingan dalam bisnis booking taksi dan akan mempercepat inovasi di bidang lain seperti logistik dan pengiriman.

Dengan infrastruktur logistik yang belum berkembang di sebagian besar Asia Tenggara, perusahaan seperti Uber dan GrabTaxi akan diposisikan untuk memberikan nilai lebih melalui layanan pengiriman di wilayah ini daripada di pasar asal mereka yang lebih maju seperti Amerika Serikat atau Malaysia.

Peter Kopitz, Group COO aCommerce mengatakn mereka sudah memiliki infrastruktur dan teknologi sehingga jika tidak ada cukup permintaan, mereka bisa mengisi waktu mereka dengan melakukan pengiriman, terutama ketika waktu jalanan sepi, seperti selama jam kerja. Sekarang Uber, GrabTaxi, dan Easy Taxi berlomba-lomba untuk menarik pelanggan yang sama. Pada titik tertentu mereka perlu mengembangkan pasar.

7. Mobile commerce masih bermasalah dengan user experience

Tahun 2014 membuktikan potensi dan memunculkan aplikasi untuk ‘mobile’ sebagai channel belanja di Asia Tenggara, yang sebagian besar dilakukan oleh aplikasi chatting Line. Perusahaan yang berbasis di Jepang ini juga baru saja meluncurkan marketplace mobile consumer-to-consumer (C2C) yang disebut Line Shop. Dengan peluncuran Line Pay dan pembayaran mobile lainnya memasuki pasar, tingkat konversi mobile akan meningkat.

Namun banyak yang memperkirakan bahwa mobile commerce masih beberapa tahun lagi untuk bisa menyalip desktop. Karena penggunaan utama mobile adalah untuk browsing. 89 persen pengguna Line melakukan browsing di mobile tetapi hanya 56 persen dari seluruh transaksi di Thailand yang benar-benar membeli.

Tapi meskipun desktop mungkin masih dominan dibanding mobile, perusahaan-perusahaan diminta untuk mengambil keputusan strategis jangka panjang dan memulai berinvestasi di ranah mobile saat ini, apakah itu membuat website yang mobile responsive atau membuat aplikasi mobile karena ada banyak kesempatan untuk bertumbuh di bisnis ini.

8. E-Commerce B2B akan menjadi tren

Setelah lama dibayangi oleh kepopuleran model e-Commerce business-to-consumer (B2C), business-to-business (B2B) diprediksi akan berjaya pada tahun 2015. Investor dan perusahaan akan mulai serius dan menyadari bahwa B2C harus menghadapi persaingan yang ketat dan memiliki margin yang sedikit, terutama di pasar negara berkembang dimana sebagian besar produk terlaris merupakan produk konsumen bermargin rendah seperti barang elektronik dan ponsel.

B2B dikatakan tidak akan membantu mendapatkan banyak pelanggan tetapi akan membuat pelaku mendapat banyak pendapatan. Di China misalnya, semua orang berbicara tentang Tmall dan JD serta B2C yang terus bertumbuh tetapi hampir tidak ada orang berbicara tentang B2B. Padahal B2B menyumbang lebih dari 75 persen total nilai barang bruto (GMV) e-Commerce di China, dimana dua pertiganya berasal dari UKM B2B. Dan bukan hanya pasar negara berkembang yang berfokus pada B2B. Bos Amazon Jeff Bezos berinvestasi sebesar USD 8 triliun di AmazonSupply.

9. Cash on Delivery (COD) masih merajai Asia Tenggara

COD menyelesaikan dua masalah terbesar pembeli online di Asia Tenggara, yaitu penipuan produk dan pembayaran. Sebagian besar konsumen di wilayah ini rupanya masih takut memberikan informasi kartu kredit atau kartu debit mereka secara online. Mereka juga khawatir tidak menerima barang yang telah mereka beli.

Selain itu, banyak konsumen tidak memiliki kartu kredit sehingga uang tunai tetap menjadi pilihan pembayaran mereka. Semua masalah tersebut ditambah dengan sulitnya penanganan pembayaran melalui transfer bank dan ATM, pembayaran di counter, dan Paypal, membuat tingginya tingkat pembatalan. Hal ini membuat COD menjadi pilihan yang paling diandalkan.

Sekitar 70% pesanan secara online di sebagian besar negara di Asia Tenggara adalah melalui COD. Tarif pembatalan untuk pembayaran melalui counter, transfer bank dan atm adalah antara 50 sampai 70%, sedangkan COD hanya 5 hingga 8%.

Paul Srivorakul mengatakan untuk memenangkan e-Commerce di Asia Tenggara, perusahaan perlu menerapkan cash on delivery, tidak peduli bagaimanapun sulitnya. Sama seperti same day delivery yang diterapkan Jeff Bezos di Amazon, COD merupakan standar layanan yang diperlukan untuk pasar Asia Tenggara

 
Sumber: Techinasia