Teknopreneur.com- Kemarin (17/2) dalam acara bertajuk “Let’s Innovate Indonesia” disebutlah sebuah konsep bernama open innovation. Apa itu open innovation? Sebagian orang mungkin sudah tak asing lagi dengan konsep ini, karena konsep ini sudah diadopsi oleh banyak perusahaan terkemuka di dunia sebagai cara baru dalam meningkatkan keterlibatan konsumen di proses inovasi.

Sebelumnya perusahaan-perusahaan besar cenderung mengandalkan unit R&D dalam inovasi produk-produk baru. Namun, semakin lama, disadari bahwa jika inovasi hanya bersumber dari dalam perusahaan, banyak ide-ide bagus terlewatkan karena keterbatasan kreasi ide dari dalam organisasi. Maka ditemukanlah sebuah solusi untuk memperbanyak jumlah inovasi dengan cara melibatkan masyarakat mulai sejak awal proses inovasi hingga peluncuran produk ke pasar.

Labih jauh lagi konsep open innovation juga dipakai dalam  inovasi di setiap lini value chain perusahaan. Bahkan untuk organisasi pemerintahan dalam melayani masyarakat, pemanfaatan konsep ini terbukti sukses di berbagai jenis industri dan organisasi bisnis maupun non-bisnis di negara maju.

Proses open innovation ini merupakan kolaborasi dari market research atau consumer insight, desain, product development, software solutions, komunitas online dan idea management.

Dan dalam pengenalan konsep ini, Hyve salah satu perusahan dunia yang banyak membantu inovasi di perusahaan brand internationl dalam oppen inovation, kini telah resmi menyatakan membuka kantor cabang pertamanya di Indonesia, yang merupakan cabang pertama di wilayah Asia  dengan menggandeng Deka Group.  Kerjasama ini nantinya akan dikelola per project dan tergantung dari klien masing-masing.

Kerjasama ini bukan tanpa alasan, Ilham Habibie yang merupakan bagian dari Hyve menjelaskan bahwa masyarakat Indonesia mimiliki tingkatan partisipasi yang luar biasa, sayangnya belum dialihkan menjadi sesuatu yang produktif.

“Potensinya jelas ada. Orang kita aktif dan partisipasif. Tinggal bagaimana menjembatani user dan teknologi. Saya belum melihat aktifitas pengguna internet atau sosial media yang menjadi kekuatan bisnis sehingga bisa digunakan secara bersama-sama dan menghasilkan manfaat. Jangan hanya sekedar chatting dan menjadi konsumen saja,” ungkap Ilham.

Dan dengan kerjasama Hyve dan Deka Group Ilham yakin bisa menjadi solusi untuk mengatasi masalah tersebut. Meski ia juga tak menutup ada beberapa tantangan yang harus dihadapi. Yang pertama adalah infrastruktur jaringan.

Masa yang berpartisipasi hanya di Jakarta, Indonesia kan lebih dari Jakarta. Di daerah mungkin banyak yang ingin berpartisipasi, tapi bagaimana caranya mereka berpartisipasi kalau infrastrukturnya belum bisa mengakomodasi,” terangnya.

Yang kedua dikatakan oleh Ilham tantangan yang mendasar adalah masalah pendidikan. “Contohnya dalam segi pembinaan, dan kemampuan dalam bahasa Inggris, padahal begitu banyak bacaan online versi Inggris yang bisa menambah pengetahuan masyarakat,” lanjut Ilham.

Namun meki begitu, Ilham mengaku siap membantu korporasi di Indonesia untuk berinovasi dengan konsep open innovation dan menciptakan manfaat ekonomi yang lebih baik bagi perusahaan Indonesia terutama untuk meningkatkan daya saing di era ekonomi bebas ini.