Teknopreneur.com – Jika dahulu kemajuan suatu bangsa diukur dari seberapa hebat negara tersebut menguasai industri, maka sekarang lain lagi, kemajuan suatu bangsa dapat diukur dari kecanggihan teknologi informasi yang dimiliki. Hal itupun, telah membuat para penyelenggara telekomunikasi di beberapa negara, seperti Korea Selatan, Jepang, China, bahkan Inggris juga ikut berlomba untuk menciptakan internet super cepat yang dikenal dengan 5G.

Menurut penelitian di Korea Selatan, teknologi 5G dikatakan 1.000 kali lebih cepat dari 4G bahkan diperkirakan mampu mengunduh file sebesar 800MB hanya dalam waktu satu detik. Bayangkan jika Anda mengunduh file yang ukurannya lebih kecil, mungkin sebelum mata Anda selesai berkedip file sudah selesai diunduh.

Namun, yang terjadi di Indonesia saat ini baru saja mulai menggelar layanan 4G dan itupun baru meng-coverage beberapa daerah di wilayah Jawa dan Bali. Alih-alih mengejar ketertinggalan dari negara lain, malah lupa dengan masalah yang namanya koneksi tidak stabil, akses internet yang belum merata, serta biaya layanan internet yang terbilang mahal.

Bahkan, hal itu juga diakui oleh CEO Indosat, Alexander Rusli menyatakan bahwa kecepatan transfer data jaringan 4G LTE saat ini masih berada di bawah jaringan 3G. “Kecepatan maksimumnya cuma sampai 35,5 Mbps karena hanya menggunakan frekuensi sebesar 5Mhz dari 900Mhz. Speed-nya di bawah 3G, malu bos,”katanya saat Indosat memperkenalkan layanan Indosat Super 4G LTE, akhir tahun lalu.

Dirinya pun mengatakan, keterbatasan serupa juga dialami oleh penyelenggara jaringan 4G LTE lainnya, yakni Telkomsel dan XL Axiata. “Untuk sementara ini kami merasa kecepatan 4G LTE tidak akan bisa bertambah, mengingat setiap operator alokasinya dibatasi hanya di spektrum 900Mhz,”ujarnya.

Menurutnya, kecepatan jaringan 4G LTE di Indonesia baru akan bisa meningkat ketika spektrum 1.800Mhz dibebaskan. Menanggapi hal tersebut, Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara menyatakan pihaknya mencanangkan frekuensi 1.800Mhz yang ditetapkan sebagai teknologi netral pada kuartal pertama tahun ini.

Bukan sembarang cepat, tapi dengan semakin padatnya pengguna justru membuat internet menjadi lambat, bahkan pada jaringan 3G saja kita sering mengalami gangguan jaringan. Artinya, perlu penataan frekuensi yang lebih baik lagi dari pihak operator dan juga pemerintah sebagai pemegang kebijakan, agar kualitas jaringan semakin prima, serta pemerataan akses internet juga masih menjadi pekerjaan rumah untuk menciptakan Indonesia yang melek internet.