Petani Langka, Mektan Solusinya

291
Mandiri Young Technopreneur 2014

Teknopreneur.com – Jumlah petani di Indonesia terus mengalami penurunan. Survei yang dilakukan oleh Biro Pusat Statistik Pertanian yang dilakukan sepuluh tahun sekali melaporkan terjadi penurunan jumlah petani yang signifikan.

Di tahun 2003, dari 18.708.052 petani tanaman pangan namun di tahun 2013 berkurang menjadi 17.728.185 petani.  Untuk petani  hortikultura berkurang hingga 6 juta petani  dari 16. 937.617 menjadi  hanya 10.602.147 petani. Di bidang perkebunan dari 14.128.539 petani menjadi 12.770.090 petani.  Begitu juga di bidang jasa misalnya penyuluh pertanian yang juga mengalami pertanian, hanya 1.075.935  yang  tadinya 1.846.140 jiwa.

Penurunan yang signfikan tersebut dibenarkan oleh Prof Erizal Jamal, Kepala Badan Alih Teknologi pertanian. Menurutnya fenomena ini memang sudah berlangsung sejak tahun 2011 dan masih terjadi hingga tahun ini. Wajar saja jika banyak petani lebih memilih menjual lahannya ketimbang mengolahnya sendiri karena menjadi petani penghasilanya itu tidak tetap.

Faktor cuaca yang tidak menentu, hama penyakit tanaman, irigasi yang sulit, pupuk yang langka, hingga masalah benih yang kurang bermutu berakibat gagal panen lebih besar terjadi dibandingkan dengan keberhasilan panen. Dan meskipun panen berhasil belum tentu mereka bisa banyak dapat uang karena ada persaingan di pasar.

“Hal tersebut yang membuat para petani lebih memilih pekerjaan lain, dan mirisnya anak-anak  petani yang melihat susahnya kondisi orangtuanya  tak mau  jadi petani.  Pekerjaan sebagai petani menjadi pekerjaan yang sangat menakutkan. Sehingga meskipun ia sarjana pertanian namun lebih memilih berkerja di bank atau menjadi pekerja kantoran lainnya. Itulah yang menyebabkan petani menjadi langka.  Namun bukan berarti tak ada solusinya, “kata Erizal saat menjadi  juri Mandiri Young Technopreneur (MYT).

Mekanisasi pertanianlah (mektan) yang menjadi solusi untuk mengatasi kelangkaan petani. Dengan membuat inovasi-inovasi alat pertanian seperti  Mesin Pemanen Padi Tipe Mower, Mesin Perontok Padi, Mesin Pembibitan Padi Hemat Lahan,Mesin Penyiang Gulma Padi Sawah,Mesin Penanam Kentang Mesin Pemanen Kentang , Mesin Pengering Biji-Bijian Tipe Sirkulasi Mesin Pembersih Gabah, Mesin Penimbang Benih Padi Semi Otomatis  dan masih banyak yang lainnya yang kini sudah ditulis dalam buku 400 Teknologi Inovatif di bidang pertanian.

Namun kita tak boleh salah menafsirkan dengan menggunakan mektan maka petani justru kehilangan mata pencaharian. Petani tetap didayagunakan, mereka dijadikan sebagai operator. Dan sebelum turun lapang menjadi opreator mereka dilatih dulu oleh pegawai-pegawa dari Balitbangtan. Dengan begitu  kelangkaan petani bisa diatasi.

Tapi Erizal yang ditemui di Mandiri Inokubator (4/2)  tetap berharap jumlah petani tidak mengalami penurunan lagi. Dan dia optimis petani di Indonesia bisa maju seperti negara luar, karena saat ini mulai tumbuh inovator-inovator di bidang pertanian, bisa terlihat dari 15 finalis MYT ada 7 finalis yang membuat  alat dibidang pertanian.