Teknoprenur.com-Wakil Ketua Dewan Pakar Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI), Riki Firmandha Ibrahim tak terlalu yakin bahwa target pemerintah pemanfaatan energi terbarukan 23% bisa tercapai. Pasalnya dikatakan Riki pemanfaatan energi terbarukan saat ini saja baru mencapai 5%. Lalu bisakah mencapai prosentase 23%, atau setidaknya 17%?

“2025 bisa naik berapa persen, proyek panas bumi hidup bisa menyumbang 7-10%. Ini juga angka yang optimistik.” ujar Riki.

Seperti yang diketahui kebijakan yang dituangkan dalam Perpres No. 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional ini menyatakan bahwa pemanfaatan energi terbarukan ditargetkan mencapai 17% di tahun 2025, lalu kemudian tahun 2014 lalu DEN menaikan target hingga 23% pemanfaatan energi terbarukan dan akan menjadi 31 persen pada tahun 2050.

“Kita memang terlambat, baru bangkit menggalakkan roadmap lima tahun belakangan. Sementara negara lain sudah sejak 25 tahun yang lalu memiliki roadmap.”

Belum lagi menurut Riki, ego sektoral yang masih tinggi antara kementerian terkait dan BUMN memiliki target yang tak berkesinambungan satu sama lainnya.

Namun menanggapi sulitnya pencapaian tersebut, menurut Wakil Ketua Dewan Pakar Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia ini yang harus dilakukan adalah cara berpikir yang benar untuk mendorong pencapaian tersebut. Bagaimana usaha untuk mencapai target tersebut. Dengan perbaikan regulasi misalnya. Juga pemetaan potensi-potensi daerah di Indonesia masalah listrik misalnya.

“Perkotaan dengan pembangkit listrik tenaga sampah, wilayah timur dengan pembangkit listrik tenaga air. Cari yang apa yang paling efisien untuk wilayah itu,” terang Riki.

Dan yang tak kalah penting ditambahkan oleh Riki adalah tentang kebijakan tarif yang harus dibenahi oleh pemerintah untuk mendukung pertumbuhan proyek-proyek energi terbarukan di Indonesia.