Teknopreneur.com – Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 secara Nasional diperkirakan Prevalensi Balita Gizi Buruk dan Kurang sebesar 19,6 %. Jumlah ini jika dibandingkan dengan hasil Riskesdas tahun 2007, mengalami peningkatan yaitu dari 18,4 %. Bila dilakukan konversi ke dalam jumlah absolutnya, maka ketika jumlah balita tahun 2013 adalah 23.708.844, sehingga jumlah balita yang mengalami gizi buruk dan kurang sebesar 4.646.933 Balita.

Tahun lalu, berbagai media di Indonesia menyebutkan bahwa 7.6 juta anak di bawah 5 tahun atau satu dari tiga balita Indonesia menderita masalah pertumbuhan akibat kekurangan gizi. Satu dari permasalahan kekurangan gizi ini adalah akibat masalah pendistribusian susu yang lama, tak jarang umur simpan sudah habis, dan susu tak lagi layak dikonsumsi. Belum lagi masalah bakteri patogen yang mengakibatkan tingkat kematian yang tinggi pada bayi dan menjadi kontroversi di Indonesia belum lama ini. Namun kini, tiga pemuda yang terdiri dari Fa rizqi Bayu Perdana, Veri Andriawan  dan Hadi A menemukan solusi berupa alat Pasteurisasi yang dinamai Milk Electricity (ME).  Milk Electricity (ME) merupakan sebuah alat pasteurisasi kejut listrik tegangan tinggi yang mampu menurunkan jumlah bakteri jahat dalam susu dan yang tak kalah penting, berbeda dengan metode pasteurisasi lainnya, proses ini tidak merusak kandungan gizi di dalamnya.

Penerapan inovasi ini, dapat memperpanjang umur simpan susu sehingga lebih aman untuk dikonsumsi, sehingga nilai jual susu pada tingkat peternak pun akan meningkat. Dan tak hanya susu rupanya, alat ini juga dapat diaplikasikan sebagai pasteurisasi jus, sirup, santan, sari tebu, sari kedelai, sari buah, serta obat-obatan cair.

Fa rizqi mengatakan inovasinya ini mampu menurunkan jumlah bakteri dalam susu tanpa merubah warna, bau dan kandungan gizi di dalamnya sehingga aman di konsumsi masyarakat. Ia juga telah membuktikan bahwa alat ini memiliki 98% efektivitas dalam membunuh Enterobacter sakazakii, bakteri patogen yang mengakibatkan tingkat kematian yang tinggi pada bayi.

Untuk mengujinya kebenaran teknologi ini, ME telah di pergunakan oleh peternak desa brau batu, Malang pada pelatihan pengolahan susu dan pembuatan yogurt dan keju. Tempat ini dipilih karena mayoritas penduduk di desa brau Batu Malang 99% adalah peternak sapi perah. Lokasi desanya pun cukup dekat dengan kampus, sehingga apabila terjadi suatu masalah akan cepat teratasi dengan dibantu tenaga ahli dari akademisi setempat.

Sistem kerja mesin pasteurisasi ini adalah menggunakan denyut medan listrik yang diciptakan dari flyback transformer (digunakan untuk keperluan operasi dari piranti CRT seperti televisi dan CRT monitor komputer). Tim ini sengaja mendaur ulang flyback transformer dari televisi bekas dengan harga yang murah dan banyak tersedia, kemudian mengubah daya listrik sekecil 90 Watt menjadi tenaga listrik sebesar 50.000 Volt. Pasteurisas ini menggunakan denyut medan listrik dengan daya yang rendah dan bisa dituntaskan hanya dalam waktu satu detik, sehingga mengurangi penggunaan listrik secara berarti. Cara ini menghemat waktu dan uang bagi para petani dan produsen susu, yang menurut penghitungan mereka, bisa meningkatkan penjualan sebanyak 50%.

Peningkatan nilai jual ini terjadi karena peningkatan “grade” susu yang dimiliki oleh peternak. Industri besar atau pengepul susu yang menampung susu dari peternak biasanya mensyaratkan grade 1 menjadi harga yang paling tinggi, dengan kualifikasi kandungan protein terjaga, yakni dengan bakteri kurang dari satu juta cfu/ml dalam 1 liter. Dengan kelebihannya ME mampu meningkatkan grade susu peternak sampai pada grade 1 sehingga akan meningkatkan penjualan susu bagi para peternak setiap harinya, artinya secara ekonomi peternak telah diuntungkan dengan adanya alat ini.

Sebagai informasi, teknologi ini sebenarnya telah di kembangkan mulai tahun 2009 dan hingga kini telah mengalami penyempurnaan baik dari sisi design ataupun proses, dan ini telah masuk menjadi 15 finalis Mandiri Young Technopreneur dalam kategori non digital.