Jika mendengar kata kampung biasanya yang terbesit di kepala kita jalanan berlubang nan becek, jika mau berobat atau ke sekolah harus melewati jembatan rusak, dan jangankan sinyal telepon listrik saja belum masuk kesana. Tapi Banyuwangi berbeda, ‘Kampung’ ini selangkah lebih maju dari kampung biasanya.  Dan jangan kaget jika kalian kesana disuguhi kecanggihan bak kota besar.

Kabupaten ini mulai mengembangkan Digital Society mirip dengan Digital Valley miliki negara Adidaya, Amerika Serikat yang antara satu lembaga dengan lembaga lainnya terhubung oleh 10000 titik wifi. Mulai dari 61 badan dinas, 24 kantor kecamatan, 28 Kelurahan, 189 kantor desa, hingga 45 puskesmas semua saling terkoneksi di ‘Kampung’ yang letaknya Ujung Jawa Timur ini.

Dulu sebelum terhubung dengan jaringan fiber optik dengan bandwith 200 Mbps, Banyuwangi ya seperti ‘Kampung’ kebanyakan. Bukan hanya fasilitas yang belum lengkap tapi untuk mengurus birokrasi butuh waktu yang panjang antri berhari-hari dan belum tentu dapat giliran. Seperti ketika ingin mengurus surat menyurat bisa hingga dua hari itu pun belum tentu selesai besoknya bisa disuruh balik lagi jika ada syarat yang belum dilengkapi. Belum lagi harus melewati beberapa pegawai agar adminstrasi lancar dan itu tak gratis, untuk mendapatkan stempel atau tanda tangan harus membayar iuran. Bisa dibilang itu menyulitkan.

Namun sekarang tak lagi, surat menyurat bisa selesai dalam waktu 1-2 jam. Dan untuk membuat Kartu Tanda Penduduk yang biasanya  membutuhkan waktu hingga tiga jam namun sekarang bisa cuma 10 menit. Begitu juga dalam pembuatan akta, tak sesulit dulu.”Kini lahir procot bisa langsung pulang bawa akta,” kata Abdulah Azwar Anas, Bupati Banyuwangi. Sejak sistem online pembuatan akta  (e-Akta) mulai diberlakukan, sudah 8089 akta yang keluar di periode Januari hingga Oktober 2014.

Sebenarnya bukan mudah bagi Azwar untuk mengubah Banyuwangi menjadi ‘Kampung’ yang berteknologi. Di tengah kurangnya SDM yang mumpuni  apalagi masalah yang menjadi fokus utama bukanlah teknologi informasi, melainkan jalan, jembatan,bandara dan pelabuhan yang mulai rusak. Selain harus diperbaiki juga diperlebar karena  kuota yang terus membesar.

Tapi akhirnya Azwar memutuskan teknologi informasi yang awalnya menjadi prioritas ke lima ini menjadi prioritas utama. Dengan menjadi prioritas utama menurutnya justru bisa mengontrol empat prioritas lainnya. Berkerjasama dengan PT Telko, Ia pun mulai mengembangkan  konsep Smart ‘Kampung’, dengan  membaginya ke dalam tujuh fokus yakni Smart Economy, Smart Mobility, Smart People, Smart Environment, Smart Living, Smart Governance, dan Smart Farming.  

Banyuwangi pun Dilirik

Konsep yang ia usung ternyata tak sia-sia, Banyuwangi dilirik menjadi  salah satu pilot project indonesia broadband plan yaitu e-pemerintah, e-kesehatan, e-pendidikan, e-logistik, dan e-pengadaan. Anas mengatakan, Banyuwangi sendiri sudah menerapkan TIK untuk menunjang pelayanan publik, baik untuk kesehatan, pendidikan, pengadaan barang dan jasa, maupun administrasi kependudukan. Menurut Direktur Utama PT Telkom, Arif Yahya, saat ini Banyuwangi menjadi kabupaten dengan jaringan wifi dan ekosistem digital terlengkap dan terbesar di Indonesia dan membuka pintu bagi dunia.

“Kini Banyuwangi yang merupakan kabupaten terluas di Jawa Timur dengan luasnya  mencapai 5,7 juta kilometer persegi. 90 kali lipat lebih luas dari Banda Aceh, 34 kali lipat dari Bandung, 17 kali lipat Surabaya, dan 9 kali lipat Jakarta bisa lebih mudah  melayani penduduknya yang berjumlah 1,5 juta jiwa,”kata Azwar.

Dalam bidang pemerintahan, Banyuwangi mulai mengembangkan SMS Gateway  sehingga keluhan masyarakat bisa ditampung dan langsung dijawab oleh pemerintah. Selain itu juga terdapat e-Perencanaan Pengganggaran, e-Akta, PBB online dan tata ruang dan demografi.

Di bidang pendidikan, aplikasi komunitas pendidikan terpadu atau yang disebut dengan SIAP online dan perpustakaan online pun sudah disiapkan Banyuwangi. Dan kini sudah  hampir 81% SMP dan 90% SMA yang terdiri dari 165 SMP dan 48 SMA sederajat sudah terkoneksi internet.

Dan untuk bidang kesehatan sudah ada aplikasi rumah sakit yang terintegrasi misalnya layanan elektronik klaim untuk masyarakat miskin dan rumah sakit yang brigding data dengan BPJS. Selain itu call center rumah sakit juga sudah terhubung dengan 150 ambulans jadi jika sewaktu-waktu diperlukan ambulan maka bisa langsung telepon call center, pasien pun akan langsung diantar ke salah satu dari 13 rumah sakit dan 48 puskesmas di Banyuwangi  yang sudah terintegrasi dalam sistem ini.

Dalam ruang lingkup sosial dan ekonomi  pun sudah mempunyai  UKM online (indipreneur) untuk mewadahi para enterprenur. Selain itu adapula aplikasi pengelolaan zakat, infaq, dan shodaqoh online dengan nama ZIS Online yang dibuat untuk membantu masyarakat miskin.  Sejak teknologi sudah masuk ke ranah ekonomi inflansi Banyuwangi jadi terendah di Jawa Timur hanya 6,59%. Kepala Sie Distribusi Badan Pusat Statistik cabang Banyuwangi, Mulyono  mengatakan angka ini selain menunjukkan bahwa daya beli masyarakat terjaga pertumbuhan ekonomi Banyuwangi 2014 lebih tinggi dari perekonomian Jawa Timur.

Di tahun 2013, pendapatan rata-rata yang hanya Rp97.957 perbulan di triwulan ketiga tahun 2014 mencapai Rp164.372/bulan. Data terakhir BPS, pendapatan perkapita masyarakat Banyuwangi pada 2013 mencapai Rp21,84 juta per orang per tahun.  Lebih tinggi dari Kabupaten Malang yang sebesar Rp19 juta /orang tahun.

Selain itu dibentuk juga smart people dimana masyarakat dipacu untuk pintar. Rakyat sebisa mungkin berbelanja di tempat tradisional, karena dengan kahadiran jaringan minimarket akan mengganggu stabilitas perekonomian kabupaten.  Sehingga ke dua minimarket tersebut dilarang didirikan di pusat hanya boleh di pinggiran. Dan kini dampaknya terasa bagi perekonomian Banyuwangi yang naik hingga 68%. 

Untuk menjaga keamanan dalam sistem penganggaran pun dibuat sebuah aplikasi bernama e-VB.  Aplikasi pertama di Jawa Timur ini dibuat sebagai sistem penganggaran dan pengawasan program pembangunan desa berbasis online. Semua desa di Banyuwangi akan memakai sistem ini agar pengelolaan uang lebih transparan dan akuntabel.

Untuk meningkatkan layanan masyarakat pemerintahan Banyuwangi juga mengadakan program 10.000 WIFI, home broadband, sistem informasi perizinan online (SIPO), sistem pembayaran uji KIR yang terintegrasi dengan bank, Drive thru PBB, dan e-Village Budgeting.

Selain itu di bidang lingkungan ada yang namanya smart environmernt. Disini pemkab mewajibkan bagi yang ingin mengeluarkan sertifikat harus menaman pohon terlebih dahulu dan dipelihara hingga tumbuh besar. Jika pohon itu mati maka harus menanam lagi. “Program yang bernama sedekah oksigen itu juga berlaku bagi penduduk yang mengajukan akta cerai,”katanya. Menurut Anas setiap orang membutuhkan oksigen, tanpa oksigen orang akan menjadi cacat bahkan mati. Dan penduduk Banyuwangi tak perlu bersedekah uang namun cukup dengan bersedekah oksigen dengan merawat pohon.

Agar bisa terlaksana sesuai dengan rencana, maka Pemkab Banyuwangi melakukan sosialisasi dan pelatihan agar para perangkat desanya paham betul dalam penggunaannya. Pelatihan tersebut dibagi menjadi tiga bagian yakni perencanaan, tata kelola, dan evaluasi, yang  semuanya berbasis online.

Jika para perangkat sudah paham betul maka sistem ini akan efektif berlaku di tahun 2015 dimana anggaran dan program desa akan terintegrasi ke sistem online. Sistem ini  juga akan bersinergi dengan Badan Pemberdayaan Masyarakat-Pemerintahan Desa, BAPPEDA,  serta Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Banyuwangi.

Sejak Banyuwangi sudah menobatkan diri menjadi ‘Smart Kampung’, kini jumlah wisatawan yang berkunjung meningkat menjadi 1000 persen dari sebelumnya. Bagaimana tidak jika promosi Banyuwangi Smart ‘Kampung’ terus-terusan dilakukan di media sosial, dengan meng-uploud tempat-tempat menarik di ‘Kampung’ ini. Banyuwangiselfie— sebuah gerakan yang dicanangkan untuk memotret kondisi di Banyuwangi—menjadi promosi luar biasa menggantikan iklan.

Dan uniknya kambing asal Banyuwangi pun tak mau ketinggalan teknologi. Penjualannya sudah melalui media online. Jadi tak salah kan jika Banyuwangi dibilang ‘Kampung’ yang gak Kampungan, karena dari  surat menyurat hingga jualan kambing pun sudah via online. Masa iya masih dibilang Kampungan?