Teknopreneur.com – Sedih betul rasanya Pak Derajat di hari itu. Lantaran hama, sawahnya hanya sedikit mampu memberikan kontribusi hidup bagi dirinya. Berbagai varian pembasmi hama sudah dilakukannya, namun tetap saja nol hasilnya. Bukan kepalang dirinya puyeng memikirkan hal itu. “Apa tidak ada inovasi yang bisa membantu dari musibah ini?” ungkapnya. Sebetulnya, inovasi yang dikatakan dirinya ada tapi memang belum terlalu terekpose bahkan tak ada gaungnya. Lalu, kenapa harus buang uang jika penelitiannya tidak bisa bersinergi dengan industri? Bisa saja tidak ada yang mempromosikan atau pun mengajak untuk memproduksi lebih banyak. 

Kepala BPPT, Unggul Priyanto mengatakan inovasi yang terlahir dari tangan anak negeri pada dasarnya sudah sangat banyak, memang masih masalah klasik yang menjadi kendala yakni sinergi dengan industri. Untuk itu, di lembaga yang dipimpinnya mewajibkan agar semua pengajuan dana penelitian bekerjasama dengan industri. “Itu sudah menjadi kebijakan kami untuk lebih mensinergikan inovasi dari peneliti dengan industri,” tukas dia saat ditemui teknopreneur.com di kantornya di Bilangan Thamrin, Jakarta.
Tentu saja, dengan kebijakan yang diterapkannya itu, dana untuk riset pun turun dan si peneliti langsung dapat mengeksekusi rancangan penelitiannya bersama industri yang terlibat. Kebijakannya itu, kata dia, terlihat dari beberapa karya peneliti BPPT yang sudah bisa dikomersilkan dengan bekerjasama dengan industri. “Sudah ada beberapa inovasi ya seperti set top box untuk tv digital dan beberapa inovasi lainnya,” ungkapnya. Dia pun mengakui bahwa menciptkan inovasi seperti itu bukanlah perkara mudah seperti membalikkan telapak tangan. “Itu biasanya didapatkan secara gak sengaja,” tuturnya. Namun sayangnya, kata dia, belum ada formula yang pas untuk memberikan royalti kepada para peneliti ini.

Terlepas dari itu, tidak semua penelitian yang dikerjakan bersama industri berjalan mulus dan sesuai rencana. Banyak hal yang manjadikannya gagal untuk terus menjadi inovasi yang dibutuhkan oleh masyarakat. “Tidak semuanya. Terkadang di tengah jalan berhenti. Sebabnya karena mungkin dari industri melihat bahwa ketika riset itu dilakukan ternyata tidak representative dengan kebutuhan masyarakat sehingga mau tidak mau harus dihentikan,” paparnya. Di BPPT sendiri pun baru sedikit sekali inovasi yang sudah berubah menjadi produk yang bisa dijual.

Kebijakan BPPT tentu saja berbeda dengan Balitbangtan. Menurut Kepala Balitbangtan, Haryono, di institusinya itu melakukan dua hal, pertama mempelajari berbagai dokumen perencanaan pembangunan pada berbagai level, mulai dari tingkat nasional sampai Kementerian Pertanian serta lembaga terkait seperti Kemenristek/Dewan Riset Nasional yang membuat Agenda Riset Nasional. Semua Dokumen ini beserta Rencana Strategis Balitbangtan akan jadi panduan awal untuk menentukan riset apa yang perlu dilakukan,

“ini sesuai posisi Balitbangtan sbg bagian dari Kementerian Pertanian. Kedua, semua Unit Kerja dan Unit Pelaksana Teknis Balitbangtan yang jumlahnya 66 melakukan penjaringan isu dan hal2 yang dibutuhkan oleh calon pengguna untuk diteliti dan dicarikan jalan pemecahannya melalui penciptaan inovasi. Ini terkait dengan peran Balitbangtan sebagai institusi yang langsung berhubungan dengan calon pengguna dari inovasi yg dihasilkan. Kedua pendekatan ini kemudian digodok dibagian perencanaan dan akan keluar sebagai dokumen rencana penelitian,” ungkapnya.

Meski begitu, kata dia, tolak ukur inovasi itu menarik untuk dikembangkan, bila inovasi itu dapat menjawab permasalahan yang dihadapi petani atau end user lain. Hal itu terlihat dari proses adopsi dari inovasi itu dimasyarakat serta adanya kepeminatan dunia usaha untuk ikut mengembangkannya. Dalam melakukan inovasi Balitbangtan bersinergi dengan banyak pihak, di antaranya perguruan tinggi, dunia usaha dan industri. “Banyak sekali kerjasama yang telah kami lakukan dengan dunia industri, baik itu dalam bentuk kerjasama penelitian maupun dalam pemanfaatan hasil penelitian yang kami hasilkan. Sampai saat ini ada 105 inovasi Balitbangtan yang telah dilisensi oleh industri dan dunia usaha, beberapa merupakan hasil dari kerjasama penelitian. Dari kerjasama ini Balitbangtan mendapatkan royalti yang dapat digunakan untuk pengembangan dan peningkatan kapasitas peneliti dan lembaga penelitiannya,” katanya.