Teknopreneur.com – Pada kenyataannya, banyak yang melakukan inovasi dari tingkat daerah, nasional hingga internasional. Namun, yang jadi pertanyaan apakah inovasi itu bersinergi dengan industri? Kemudian bagaimana caranya membuat inovasi tersebut dapat bersinergi?

Menanggapi hal itu, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian RI, Dr. Ir. Haryono, MSc menyatakan, “Dalam melakukan sebuah inovasi Balitbangtan bersinergi dengan banyak pihak, diantaranya perguruan tinggi, dunia usaha, dan industri.”

Lebih lanjut ia pun menerangkan, banyak sekali kerjasama yang telah kami lakukan dengan dunia industri, baik itu dalam bentuk kerjasama penelitian maupun dalam pemanfaatan hasil penelitian yang kami hasilkan. “Sampai saat ini, ada 105 inovasi Balitbangtan yang telah dilisensi oleh industry dan dunia usaha, beberapa merupakan hasil dari kerjasama penelitian. Dari kerjasama tersebut, Balitbangtan mendapatkan royalty yang dapat digunakan untuk pengembangan dan peningkatan kapasitas peneliti serta lembaga penelitiannya,”ujarnya dalam keterangan yang diberikan kepada Teknopreneur.com.

Dirinya pun menambahkan, ada dua prosedur  yang digunakan Balitbangtan sebelum melakukan inovasi. Pertama, mempelajari berbagai dokumen perencanaan pembangunan pada berbagai level, mulai dari tingkat nasional sampai Kementerian Pertanian serta lembaga terkait, seperti Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) atau Dewan Riset Nasional yang membuat Agenda Riset Nasional.

Ia pun melanjutkan, semua dokumen tersebut beserta Rencana Strategis Balitbangtan akan jadi panduan awal untuk menentukan, riset apa yang perlu dilakukan sesuai dengan posisi Balitbangtan sebagai bagian dari Kementerian Pertanian.

Setelah itu yang kedua, semua Unit Kerja dan Unit Pelaksana Teknis Balitbangtan yang jumlahnya ada sekitar 66 unit, melakukan penjaringan isu dan hal-hal yang dibutuhkan oleh calon pengguna untuk diteliti dan dicarikan jalan pemecahannya melalui penciptaan inovasi. Hal ini, terkait dengan peran Balitbangtan sebagai institusi yang langsung berhubungan dengan calon pengguna dari inovasi yang dihasilkan.

“Kedua pendekatan inilah yang kemudian digodok dibagian perencanaan dan akan keluar sebagai dokumen rencana penelitian,”ujarnya. Selain itu ia pun mengungkapkan, tolak ukur inovasi itu menarik untuk dikembangkan, bila inovasi itu dapat menjawab permasalahan yang dihadapi petani atau end user lain. “Hal itu terlihat dari proses adopsi dari inovasi itu dimasyarakat serta adanya kepeminatan dunia usaha untuk ikut mengembangkannya,”tutupnya.