Teknopreneur.com – Anda setuju jika pasara e-Commerce merupakan industri yang menjanjikan? Maka jawabannya adalah ya, sangat menjanjikan. Pendapatan industri e-Commerce tak bisa dikatakan kecil, sesuai dengan riset e-Marketer secara global pasar ini memberikan nilai hingga mencapai US$1,233 triliun di tahun 2013. Dan tahun 2014 meningkat hingga mencapai US$1,471 triliun. Tahun ini, diprediksikan akan kembali meningkat hingga US$1,700 triliun. Bahkan tak tanggung-tanggung untuk tahun 2018 diprediksi naik hampir 100% dari tahun 2013 yakni US$2,356 triliun.

Mau tahu negara mana aja yang memiliki pendapatan terbesar di industri ini? Pasar eCommerce global dirajai oleh kawasan Amerika Utara selama dua tahun belakangan, dengan tingkat pendapatan mencapai US$380 miliar pada 2012 dan US$431 miliar di 2013.

Namun pasar Asia Pasifik tak bisa dianggap remeh, tahun ini dan tahun depan, posisi ini dipegang oleh kawasan ini dengan pendapat diprediksi mencapai US$525 miliar sedangkan Amerika Utara hanya US$482,6 miliar. Posisi ini tak lepas dari kontribusi tiga negara Asia yang penduduknya terpadat di dunia yakni Cina, Indonesia, dan India. Tahun 2013 pertumbuhan B2C (business to costumer)secara online di Cina mampu menembus angka 78,5%, sementara Indonesia mencapai angka 71,3%, sedangkan India dengan presentase pertumbuhan 34,9%. Angka tersebut mengalahkan Amerika Serikat yang pernah memegang predikat sebagai negara dengan konsumsi B2C secara online terbesar di dunia.

Potensi Indonesia Sekuat Karang

Seperti yang telah disinggung di atas, Indonesia jelas memeiliki peran yang kuat dalam pertumbuhan e-Commerce di Asia Pasifik. Meski e-Commerce di Indonesia baru dimulai pada tahun 1999, Indonesia mampu menduduki peringkat kedua setelah Cina. Posisi ini tak lepas dari semakin ramainya media sosial di Indonesia yang membuat perilaku digital, termasuk belanja online yang terus meningkat.

Berdasarkan data dari UBS, pendapatan penjualan ritel e-Commerce di Indonesia pada tahun 2013 menghasilkan nilai hingga US$100,2 miliar, tertinggi dibandingkan negara ASEAN lainnya. Dari segi kesiapan market pun Indonesia lebih siap 34% jika dibandingkan dengan negara tetangga lainnya. Hal tersebut didukung dengan data Kemenkominfo tahun 2013, bahwa terdapat 47% transaksi penjualan online dan 56% transaksi pembelian online melalui internet. Untuk perangkat yang lebih sering digunakan untuk berbelanja online 61% menggunakan mobile phone, 58% menggunakan komputer, dan 39% menggunakan tablet.

Tingginya persentase pertumbuhan Indonesia dibandingkan dengan negara tetangga menurut Daniel Tumiwa saat ditemui oleh Teknopreneur tak terlepas dari kebutuhan dan gaya hidup konsumen kelas menengah, yang kini sudah mencapai 74 juta orang dari total jumlah penduduk yang mencapai 244,8 juta orang. Diproyeksikan pada tahun 2020 angka ini naik menjadi 141 juta orang atau sekitar 54% dari total penduduk di Indonesia.

Namun meski pendapatan e-Commerce Indonesia tertinggi di ASEAN, jika dihitung secara rata-rata, dibagi dengan jumlah penduduk, maka pendapatan dari penjualan ritel e-Commerce Indonesia masih kalah dibandingkan dengan Singapura dan Malaysia, yang secara jumlah, penduduknya lebih sedikit.
Jika dibagi dengan jumlah penduduk, rata-rata pendapatan e-Commerce Indonesia hanya mencapai US$2,44 miliar. Sedangkan Singapura yang penduduknya hanya 5,3 juta jiwa, pendapatan rata-rata e-Commerce-nya mencapai US$5,58 milar. Sedangkan Malaysia yang penduduknya berjumlah 29,5 juta jiwa pendapatan rata-ratanya US$ 3,32 miliar.

Dalam artikel di WSJ menyatakan bahwa penyebab pertama kenapa orang Indonesia sampai saat ini, belum pernah belanja via online adalah karena rendahnya penetrasi kartu debit dan kredit. Euromonitor International melaporkan di tahun 2013, baru 40% akun bank yang terhubung ke kartu kredit dan debit dari total penduduk Indonesia yang mencapai 240 juta. Jika dibandingkan dengan penetrasi mobile phone, angka ini masih rendah karena sekitar 85% orang Indonesia memiliki mobile phone yang mana setiap bulannya mereka menghabiskan 661 halaman untuk browsing.

Tetapi, walaupun jumlahnya masih rendah dibanding negara dengan total penduduk besar lainnya, jumlah pengguna kartu kredit di Indonesia tumbuh secara positif, pada tahun 2014 lalu diharapkan pengguna kartu kredit di Indonesia akan mencapai angka 16.5 juta. Berbeda dengan kartu kredit, jumlah kartu debit di Indonesia jauh lebih unggul yaitu hampir mencapai 80 juta pada tahun 2013 kemarin.

Kenyataan ini, sebenarnya bisa jadi peluang bagi para pemain e-Commerce bukan? Bahwa pasar e-Commerce Indonesia masih bisa menghasilkan nilai yang lebih besar di tahun-tahun mendatang jika masalah infrastruktur dan sistem pembayaran bisa cepat diperbaiki. Karena menurut NTT Asia Limited bisnis e-Commerce ini bisa meningkatkan pendapatan hingga 28% daripada sistem jual beli konvensional, menurunkan biaya pajak hingga 11%, serta mengefisienkan rantai penjualan. Pasar yang menarik bukan?