Teknopreneur.com- Tahun 2025 Pemerintah Indonesia telah menghasilkan kapasistas listrik dari Geothermal sebanyak 12,6 GW. Padahal saat ini menurut data dari Pertamina kapasitas yang terpasang baru 1,2 GW atau 4% dari seluruh potensi yang ada yaitu 27.140 MW.

Masih ada 11,4 GW yang harus dicapai dalam kurun waktu 10 tahun mendatang. Jika dihitung secara rata-rata maka setiap tahunnya Indonesia harus menghasilkan 1 GW dari pembangkit listrik panas bumi.

Menanggapi hal ini, Kepala Balai Besar Teknologi BPPT, Andhika Prastawa mengatakan bahwa 1 GW dalam satu tahun adalah hal yang tidak mungkin, karena terlampau berat. Kecuali jika, mulai dari tahun ini sampai dengan 2 tahun ke depan segala permasalahan, atau yang dikatakan Andhika sebagai puncak-puncak gunung es dapat diatasi.

Pertama adalah, masalah Pembiayaan. Bayangkan saja untuk membangun satu sumur saja membutuhkan dan US$5 juta, belum lagi menurut Kepala Balai Besar Teknologi BPPT, ada potensi kegagalan dalam pengeboran sumur tersebut.

“Dari empat sumur bisa saja 1 yang paling sesuai,” tukasnya.

Itu baru tahap pembangunan sumur, belum biaya untuk ke tahapan lainnya.

Masalah penting lainnya yaitu kebijakan pemerintah. Selama ini, lagi-lagi masalah kebijakan yang tak terintegrasi. Saling bertabrakan apakah antara dinas kehutanan, lingkungan hidup, dan energi.

“Saya dengar sudah ada penyelesaian tentang aturan yang saling bertabrakan tersebut. Panas bumi bukan dianggap sebagai hasil tambang.”

Juka masalah tersebut sudah diatasi menurut Andhika bukan tidak mungkin target 12,6 GW akan tercapai.

“Jadi sistemnya lebih ke akselerasi, di tahun ke-empat kita sudah bisa menghasilkan 2-3 GW. Berlanjut ke tahun selanjutnya seperti itu. Baru bisa tercapai 11 GW,” tambah Andhika.

 

Foto: apbi-icma.org