Teknopreneur.com – Revolusi dunia informasi dan teknologi (IT) seakan telah mengubah segala bentuk dan rupa pengetahuan dan wawasan yang lazimnya dikonsumsi oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Tak ayalnya lagi, jika saat ini segala macam informasi dapat diperoleh dengan mudah lewat jejaring sosial.

Sosial media bak jamur yang tumbuh di musim hujan, tak lain disebabkan dengan adanya perkembangan IT yang telah membuat dunia kini bergerak hanya dengan internet dan gadget. Namun, dibalik kemudahan yang diperoleh dari sosmed, tetap saja menyimpan unsur negatif dengan kebebasan berekspresi tentunya dapat menimbulkan berbagai masalah baru.

Untuk itu, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara bersama Kementerian Luar Negeri, mengadakan Focus Group Discussion (FGD) yang bertema “Kebebasan Berekspresi dan Sensitivitas Agama” yang bertempat di Gedung Pancasila, kemarin lusa. Hal tersebut, seperti yang dilansir dari laman resmi Kemkominfo, Selasa (20/1) .

Dirinya pun berjanji akan terus berkomunikasi dengan kementerian lain, seperti Kemenag, untuk terus mengawasi portal, blog, facebook, twitter, dan media sosial lainnya. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari hal-hal yang dianggap menyimpang atau menimbulkan keresahan dalam masyarakat.

Kemudian, Menteri Luar Negeri RI, Retno LP Marsudi menjelaskan, seperti sikap pemerintah Indonesia yang mengecam aksi penembakan di kantor majalah Charlie Hebdo di Paris, dalam beberapa waktu lalu. “Tindak kekerasan apa pun, tentunya tidak dapat dibenarkan,”katanya.

Selain itu, Menteri Agama (Menag), Lukman Hakim Syaifuddin juga berkomentar soal deklarasi Hak Asasi Manusia (HAM) secara Universal menyatakan setiap orang dituntut untuk menghormati hak dan kebebasan orang lain. “Dan, dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang dituntut untuk memenuhi tuntutan atas tiga pertimbangan, yakni, nilai-nilai moral, ketertiban umum dan keamanan, yang tertera dalam konstitusi (UUD) kita, ditambah nilai-nilai agama,”ujarnya.

Jadi, dalam berekspresi di sosial media tiap orang boleh saja bebas, tapi tetap ada batasanya. “Jika tidak memahami hal tersebut, maka akan mendapat tantangan dari masyarakat itu sendiri,”ucapnya.