Teknopreneur.com- Bila kita melihat perkembangan varietas kedelai di Indonesia, kita seharusnya bangga dan optimis. Begitu yang dikatakan oleh Adi Wijaya (BMF) Karena saat ini dilaporkan telah banyak kedelai baru baik hasil pemurnian , persilangan, bahkan rekayasa genetika dengan memanfaatkan nuklir.

Indonesia bahkan memiliki kedelai yang kandungan proteinnya lebih tinggi seperti varietas Bromo 37,8%, varietas Burangrang 39,2%, varietas Mitani hasil produk iradiasi yang mencapai 42,9%, dan bahkan varietas Lokal Grobogan mencapai 43,9%.

Dengan adanya fakta tersebut, seharusnya kedelai lokal (misalnya varietas lokal Grobogan) dapat dihargai lebih tinggi dibandingkan kedelai impor terutama dalam industri tahu. Berdasarkan pengamatan pada industri tahu lokal di Grobogan, penggunaan kedelai varietas Lokal Grobogan (kadar air sekitar 18%) dapat menghasilkan tahu 50% lebih banyak bila dibandingkan dengan kedelai impor (kadar air <12%).

Pengrajin mengatakan bila kadar airnya sama, jumlah tahu yang diperoleh dapat mencapai dua kali lipat lebih banyak. Keuntungan lain yang diperoleh adalah penghematan bahan bakar, tenaga kerja serta waktu.

Yang perlu menjadi perhatian menurut Adi justru bagaimana kedelai itu dapat diterima oleh petani dan pasar. Ada banyak parameter yang dibutuhkan agar kedelai-kedelai tersebut dapat diterima. salah satunya adalah badan yang bisa fokus menangani masalah kedelai lokal.

Adi mengaku sedih melihat kenyataaan bahwa kedelai impor memiliki badan yang menjalankan kegiatan marketingnya seperti kedelai impor dari Amerika memiliki perwakilan USDA (departemen pertanian USA) di Indonesia bahkan memiliki perwakilan exportir kedelai, American Soybean Association, di Indonesia.

” Di Indonesia saya belum melihat ada badan yang fokus melakukan hal tersebut, yang bisa mengedukasi petani untuk menanam kedelai jenis tertentu untuk mencapai swasembada kedelai, serta mengedukasi pasar untuk mau menggunakan jenis kedelai yang ditanam kedelai sendiri, atau memberi umpan balik dari pasar atas kebutuhan suatu jenis kedelai kepada petani agar mereka mau menanamnya,” terang Adi.