Teknopreneur.com – PLTN memang sedang menjadi ingar bingar yang menarik untuk diperbincangkan khalayak umum. Apalagi kalau bukan kekhawatiran krisis energi yang selalu digembor-gemborkan oleh pemerintah. Akan tetapi, dengan rencana dibangunnya PLTN di negeri ini, seberapa besarnya pengaruh terhadap perekonomian negeri?
Pengamat ekonomi, Umar Juoro mengatakan bahwa keinginan pemerintah untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi di angka 7 persen adalah mutlak diperlukannya pembangunan PLTN. “Melihat target pertumbuhan ekonomi 7 persen pertahun, maka permintaan listrik akan tumbuh lebih dari 10 persen. Kebutuhan ini semestinya dipenuhi dari PLTN dan sumber energi bersih seperti geotermal,” kata Umar di Jakarta (Jumat, 16/01).

Dirinya pun mencontohkan di berbagai negara maju yang kembali mendorong penggunaan PLTN, setelah ada tantangan terhadap PLTN karena kasus Fukusima. “Keamanannya diperbaiki dan pengertian kepada masyarakat di tingkatan,” ujar dia.

Secara umum, kata dia, permintaan terhadap litsrik itu lebih besar sekitar 1,5 kali dari pertumbuhan ekonomi. Maka dari itu, jika pertumbuhan ekonomi 6 persen, permintaan terhadap listrik 9 persen. Pembangkit listrik masih didominasi oleh penggunaan BBM sekitar 60 persen, 35 persen batubara. “Selain itu, biayanya mahal dan polusi. PLTN adalah sumber energi yang bersih. Hanya keamanannya yang harus dijaga,” ungkapnya kepada teknopreneur.com. 

Sementara menurut Kepala Batan, Djarot Sulistio, agak sulit menjawabnya kalau introduksi PLTN hanya 2 buah 10 tahun yang akan datang, “Itu kan hanya sekitar 2000 MW saja. Baru akan terasa kalau misalnya kita punya 20 PLTN, maka dapat diukur dari tingkat kestabilan pasokan listrik untuk industrialisasi,” ujarnya.