Teknopreneur.com – Tak dapat dipungkiri teknologi telah menjadi bagian dari hidup masyarakat dunia saat ini. Bahkan, telah memberikan banyak kemudahan dalam aktivitas manusia sehari-hari.

Di sisi lain, teknologi ternyata juga memberikan ancaman dan rentan terjadi tindak kejahatan di dunia maya atau disebut juga cyber crime. untuk saat ini, secara langsung kita memang belum mengalami hal tersebut.

Akan tetapi, jika melihat peristiwa pembajakan yang dialami oleh Sony Pictures beberapa waktu lalu, yang menyebabkan sistem komputer mereka down dan hingga saat ini masih belum bisa dihidupkan. Bahkan, baru-baru ini Gedung Putih mendapatkan serangan hacker yang mengakibatkan kebocoran data privacy milik pemerintahan Amerika Serikat.

Kejadian itu pun seakan membuat Presiden AS Barrack Obama geram hingga menyatakan,“Seperti yang sudah diingatkan dalam tahun sebelumnya, interkoneksi tentunya dapat menciptakan kemudahan, tetapi juga menciptakan kerentanan yang sangat besar bagi bangsa, perekonomian, ataupun masing-masing individu, termasuk peristiwa yang dialami Sony kemarin.” Hal tersebut seperti yang dikutip dari BBC, Senin (12/1).

Berangkat dari kedua kasus tersebut, dirasa perlu adanya lembaga atau badan khusus yang menangani kejahatan di dunia maya, yakni Cyber Troops. Seperti apa yang dilakukan pemerintah saat ini, yang sedang membentuk Badan Cyber Nasional atau disingkat BCN.

Maka jangan heran, ketika yang Anda lihat bukanlah pasukan berbadan kekar dan bersenjatakan peralatan perang, melainkan sekelompok orang biasa dan hanya duduk manis di depan komputer. Namun jangan salah, mereka juga memiliki fungsi dan tugas yang hampir sama, meski aspek yang mereka jalani sangatlah jauh berbeda.

Jika tentara umumnya dilatih untuk menahan serangan fisik, maka  mereka adalah pasukan yang dibina untuk menjaga ataupun melindungi negara dari ancaman serangan kaum peretas (hacker). Ketika ditanya kepada Pakar IT, Onno W Purbo yang biasa disapa Kang Onno ini menyatakan tidak mengetahui secara pasti tentang pembentukan badan keamanan IT tersebut.

“Saya juga gak tahu sih, maklum baru satu kali ngobrol dengan Asisten Deputi Kemenko Polhukam, Pak Prakoso dan juga anak-anak keamanan IT disana,”ujarnya. Ketika dikroscek lebih dalam lagi mengenai pembentukan Badan Cyber Nasional itu,  Deputi Komunikasi Informasi dan Aparatur Kemenko Polhukam, Agus Ruchyan Barnas menyatakan, teknologi itu membuat kita mudah, tapi di sisi lain juga ada kerentanan di situ.

Ia pun tak ragu lagi memberikan penjelasan yang gamblang mengenai pembentukan badan tersebut. Dirinya pun menuturkan,“Korea Selatan pernah mengalami kejahatan cyber dan selama 2 minggu aktivitas mereka seakan terhenti, Anda bisa bayangkan jika tidak ada internet, mati listrik dan semuanya berhenti, mulai dari transaksi keuangan, transportasi dan lain-lain.”

Hal tersebut, tentu sangatlah merugikan banyak pihak, maka perlulah dibentuk badan yang boleh dibilang sebagai pintu utama perlindungan atas kejahatan cyber. Bahkan dalam Readiness Network Index 2014, Indonesia masih berada di peringkat 64 dari 138 negara. “Artinya, Indonesia masih jadi sasaran empuk bagi para hacker,”ucapnya.

Lebih lanjut ia mengungkapkan bahwa teknologi Indonesia bisa disetarakan dengan negara tetangga, seperti Singapura dan Malaysia. “Sedangkan dari segi SDM, indonesia sendiri juga memiliki banyak tenaga yang ahli dibidang IT,”katanya.

Kemudian ia pun menjelaskan, badan ini nantinya berfungsi sebagai koordinator keamanan data antar instansi atau lembaga pemerintahan lainnya, industri perbankan, telekomunikasi, PLN dan sampai ke public. Memang saat ini, di setiap sektor sudah memiliki keamanan (cyber security) sendiri, tapi itu masih masing-masing dan belum terintegrasi.

“Diibaratkan sebuah komplek perumahan, di situ ada institusi pemerintahan, ada perbankan dan lainnya yang pada umumnya memiliki pos pengamanan. Begitu juga BCN, yang diibaratkan sebagai pos pengamanan, untuk alasan itulah kita butuh badan tersebut,”tuturnya.

BCN memang belum terbentuk, tapi telah mendapatkan respon postitif dari Presiden RI. Ia pun mengatakan,“Seminggu lalu, kami para kementerian dan Bapak Presiden sudah bertemu, dan tanggapannya pun positif. Saat ini pun, pemerintah masih merancang kebijakan yang akan mengatur badan tersebut.”

Selain itu, ia juga menyatakan bahwa nantinya badan tersebut akan berada langsung di bawah kepemimpinan Presiden RI. “Secara teknis BCN tidak akan terlalu masuk ke dalam, tetapi mereka harus memberikan pelayanan terbaik untuk melindungi secara nasional,”ungkapnya.

Ia pun mengingatkan bahwa BCN tidak didesain untuk menyerang, melainkan hanya untuk menangkal serangan dari hacker saja. Untuk itu, diharapkan dengan pebentukan BCN ini dapat meningkatkan keamanan IT Indonesia.

Meskipun, dalam dunia IT selalu ada celah untuk bisa diretas oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Namun, kata-kata ‘lebih baik mencegah daripada mengobati’ sepertinya bisa mewakili, ketimbang tidak melakukan apa-apa. Juga masih banyak hal yang harus kita pelajari dari peristiwa yang terjadi di dunia IT, agar pertahanan Indonesia di bidang teknologi dan informasi menjadi lebih baik lagi kedepannya.