Teknopreneur.com- Chandra Indrawanto, Kepala Bagian Kerjasama Hukum Organisasi dan Humas Balitbangtan merasa pesimis dengan pencanangan swasembada kedelai yang dilakukan presiden Jokowi. Adi Wijaya, Director Budi Mixed Farming pun mengakuinya, bahwa swasembada kedelai bukanlah hal yang mudah untuk dicapai.

“Masalah terdepan pasti adalah produksi yang kurang,”

Berdasakan data di tahun 2014, angka ramalan II produksi kedelai baru mencapai angka 921.336 ton dengan kegunaan bergama termasuk untuk benih kembali, sedang kebutuhan konsumsi kedelai di tahun 2013 menurut USDA saja telah mencapai 2,675 juta ton per tahun.

Adi menjelaskan mengapa produksi kedelai masih kurang, disebabkan oleh banyak hal. Secara umum bisa disebabkan luas tanam yang tidak mencukupi serta produktivitas yang tidak mencukupi.

“Kita pernah mencapai luas tanam hampir 1,5 juta ha, sedangkan saat ini dikisaran 600 ribu ha,”  ucap Adi.

Adi menambahkan luas tanam tidak mencukupi paling utama disebabkan petani kedelai sudah tidak mau menanam kedelai lagi dikarenakan mersa tidak mendapatkan keuntungan yang layak. Ketiidakmauan menanam bisa disebabkan harga jual yang rendah, maupun produktivitas yang rendah.

Sementara untuk produktivitas yang rendah dapat disebabkan karena iklim, cuaca ekstrim yang tidak terprediksi, kemampuan budidaya yang kurang, serta adaptasi teknologi yang kurang termasuk benih unggul dan pupuk.

Meski swasembada kedelai memang sulit dilakukan, Adi (BMF) tetap optimis bila kita tetap berusaha mencapai swasembada maka itu dapat tercapai.

“Pertanyaannya justru apakah tahun 2017 swasembada kedelai dapat kita raih?

Jawabanya menurut Adi mungkin belum bisa di tahun itu. Tetapi cara yang perlu dilakukan adalah memecah- mecah masalah yang besar tersebut menjadi lebih kecil untuk mencapai swasembada kedelai, terutama untuk produksi tahu.

“Untuk tahu, kecap saya optimis, namun untuk tempe, mungkin akan butuh waktu yang lebih panjang,” ujar Adi.

 

Foto: www.greeners.co