Teknopreneur.com- Rudiantara, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) mendukung penuh ide mengganti buku pelajaran dengan tablet melalui program e-Sabak yang dilakukan Kementerian Kebudayaan, Pendidikan Dasar dan Menengah (Kembuddikdasmen), seperti yang dilansir kominfo.go.id.

Kementerian Kebudayaan, Pendidikan Dasar dan Menengah melontarkan ide mengganti buku pelajaran dengan tablet melalui program e-Sabak dengan tujuan meningkatkan kualitas pendidikan. Namun, masalahnya adalah dukungan infrastruktur dan SDM dinilai masih menjadi persoalan. 

Untuk mendukung program ini, dikatakan Rudiantara, Kementeriannya akan memaksimalkan Internet Exchange Point (IEP), sehingga bisa mengefisienkan penggunaan bandwidth.

“Bentuk optimalisasi itu dengan re-routing jaringan Kementerian Kebudayaan, Pendidikan Dasar dan Menengah agar trafik tak harus melewati ke pusat internet exchange di Jakarta dengan fasilitas Nusantara Internet Exchange (NIX-red),” kata Rudiantara di Kantor Kementerian Kebudayaan, Pendidikan Dasar dan Menengah.

NIX merupakan sebuah Internet Exchange Point (IEP), bagian dari program Kewajiban Pelayanan Umum/Universal Service Obligation (KPU/USO), Kominfo.

Keberadaan NIX untuk mendistribusikan trafik internet di wilayah pelayanan, baik universal telekomunikasi, trafik nasional, dan internasional. Selain itu juga dapat mengurangi latensi, efisiensi routing trafik internet, serta mengurangi biaya pengiriman trafik nasional dan internasional.

Menurut Rudiantara, Kominfo pun sudah mengantisipasi konten-konten yang membahayakan siswa sekolah mengingat fase elektronik ini untuk kepentingan pendidikan. Kominfo juga sudah memblokir situs yang tak boleh diakses masyarakat, dengan pertimbangan kepribadian, keamanan dan lainnya dengan menyiapkan whitelist.

“White list ini ditujukan untuk dunia pendidikan, utamanya pesantren dan untuk sekolah-sekolah yang sudah bersih dari situs-situs yang tidak diperkenankan,” ujar Rudiantara.

Sebelumnya, ide tentang mengubah buku dengan tablet bergulir dengan mempertimbangkan aktivitas belajar mengajar di Indonesia yang tergolong tinggi. “Saat ini setidaknya ada 208.000 sekolah di wilayah Indonesia. Setiap harinya, aktivitas ini melibatkan 50 juta anak didik dan tiga juta guru,” kata Menteri Kebudayaan, Pendidikan Dasar dan Menengah Anies Baswedan. 

Anies menyebutkan, peralihan buku ini secara detail yaitu mengubah buku pelajaran yang berbasis fisik menjadi buku elektronik atau e-book. Fungsi itu bisa diakomodasi oleh tablet atau perangkat elektronik semacamnya. Kemendikbud menyebutnya dengan program e-Sabak.

Nama Sabak sendiri merupakan alat yang sering digunakan oleh orangtua zaman dahulu, yakni media berupa papan yang kemudian dituliskan dengan kapur. Saat ini, konsep sabak terakomodasi pada perangkat mobil jenis tablet.

Lebih lanjut, kata Anies, dengan penggunaan tablet sebagai pengganti buku teks juga bisa menekan biaya soal pendistribusian buku-buku pelajaran ke daerah terpencil.Selain itu, kualitas yang dikirimkan kepada anak-anak tidak dipengaruhi faktor lainnya, baik kertas, distribusi, dan kerumitan soal logistik.