Teknopreneur.com- Kenapa virus ebola begitu di takuti? Virus Ebola diduga berasal dari kelelawar buah dan pertama kali dideteksi pada 1976 dekat Sungai Ebola yang berada di negara Kongo.

Virus ini bisa tertular melalui darah, muntah, feses, dan cairan tubuh dari manusia pengidap Ebola ke manusia lain. Infeksi terjadi ketika cairan-cairan tubuh tersebut menyentuh mulut, hidung, atau luka terbuka orang sehat.

Bersentuhan langsung pada kasur, pakaian, atau permukaan yang terkontaminasi juga bisa menyebabkan infeksi – tetapi ini hanya melalui luka terbuka orang sehat.

Gejala awal yang ditimbulkan adalah demam mendadak, nyeri otot, kelelahan, sakit kepala, dan sakit tenggorokan. Diikuti dengan muntah, diare, ruam dan perdarahan , baik internal maupun eksternal yang dapat dilihat pada gusi, mata, hidung dan di tinja. Parahnya, pasien cenderung meninggal karena dehidrasi dan kegagalan organ yang ditimbulkan oleh virus ini.

Begitu mengerikannya virus ebola, hingga Anthony Banbury, Kepala Tim Misi Ebola PBB mengatakan target menghentikan wabah Ebola akan berakhir pada tahun 2015.

Banbury mengatakan targetnya untuk membawa jumlah kasus Ebola ke angka nol pada akhir tahun ini.

“Kami terlibat dalam pertempuran epik,” katanya.

Virus ebola telah menewaskan hampir 8.000 orang, sebagian besar di Sierra Leone, Liberia dan Guinea, di mana penyakit ini dimulai pada Desember 2013.

Banbury mengakui misi tiga bulan telah gagal untuk mencapai target 100% penguburan dan pengobatan 70% dari orang yang terinfeksi yang aman.

Tapi dia tetap memuji upaya-upaya internasional untuk memberantas virus ini.

Banbury menyadari bahwa sangat sulit untuk membawa kasus ebola ke angka nol.

“Tapi itu adalah apa yang akan kita lakukan,” dan Banbury mempercayainya.

Awal pekan ini, Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan jumlah orang yang terinfeksi oleh virus ebola di Liberia, Sierra Leone dan Guinea telah mencapai 20.000.

WHO mengatakan lebih dari sepertiga dari 20.000 kasus di Afrika Barat berada di Sierra Leone, yang telah menjadi negara yang terkena paling parah.

 

Usaha Percobaan Vaksin

Krisis kesehatan dipicu oleh wabah ebola telah menyebabkan percepatan besar dalam laju penelitian vaksin ebola.

Salah satunya para ilmuwan di Universitas Oxford boleh telah mulai mengimunisasi sukarelawan sehat dengan vaksin Ebola belum lama ini. Percobaan terbaru ini melibatkan 72 sukarelawan berusia 18-50. Para relawan di Oxford adalah manusia pertama yang menerima vaksin.

Tes awal pada monyet menunjukkan vaksin, yang dikembangkan oleh Janssen (Perusahaan Farmasi) dari Johnson dan Johnson, memberikan perlindungan terhadap Ebola.

Dr Matthew Snape, dari Oxford Vaksin Group, bagian dari University of Oxford Departemen Pediatri, mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk mengimunisasi semua peserta dalam waktu satu bulan untuk
untuk memahami profil keamanan vaksin.

Dosis pertama dirancang sebagai sistem kekebalan tubuh dengan dosis kedua sebagai penguat untuk meningkatkan respon imun. Penyelenggara uji coba ini dijamin tidak dapat menyebabkan orang terinfeksi Ebola. Respon hasil imun vaksin yang diperoleh baik antibodi dan sel T akan diukur selama setahun.

Selain di Oxford percobaan kecil seperti ini juga akan dilakukan di Amerika Serikat dan tiga negara Afrika yang tidak terpengaruh oleh Ebola.

Johnson dan Johnson juga mengatakan bahwa pihaknya berharap untuk memulai lebih besar percobaan Tahap 2 di Afrika dan Eropa dalam waktu tiga bulan dan kemudian memiliki vaksin yang tersedia untuk digunakan di Liberia, Guinea dan Sierra Leone pada pertengahan 2015. Perusahaan itu menyatakan bisa memiliki 2m dosis vaksin tersedia tahun ini.

Selain para ilmuan di Oxford, pada akhir tahun lalu secara terpisah GlaxoSmithKline dan National Institutes of Health di AS juga mengembangkan vaksin untuk ebola. Rusia juga tak mau kalah sedang mengembangkan vaksin untuk virus ini. Lalu, ada pula Merck yang baru-baru ini membeli hak vaksin ebola yang dikembangkan oleh perusahaan bioteknologi NewLink Genetika.

Indonesia Juga Punya Potensi

Para ilmuan Oxford, Rusia, atau Amerika boleh saja mengembangkan vaksin. Tapi apa kalian tahu bahwa Indonesia juga mempunyai peluang untuk mengembangkan vaksin ebola. Vaksin itu bisa didapat dari tanaman tembakau.

 Guru Besar Bio Cell Universitas Brawijaya Malang Sutiman mengatakan pada antaranews.com bahwa tembakau yang tumbuh di sejumlah wilayah di Tanah Air bisa digunakan untuk menangkal virus ebola.

“Untuk mencegah virus tersebut tidak sampai meluas, sebenarnya cukup mudah, yakni dengan tembakau yang diolah menjadi vaksin,” kata Sutiman.

Khusus virus ebola, di dalam tanaman tembakau terdapat tobacco muzaic virus yang bisa disisipi gen antibodi untuk antiebola. Dari situ, tanaman tembakau bisa memproduksi vaksin antiebola.

Ia bahkan mengaku amat siap jika Universitas Brawijaya Malang dipercaya dan ditunjuk membuat vaksin ebola tersebut.

Menurut dia, Indonesia bisa menjadi pasar potensial untuk mengembangkan vaksin virus ebola.

“Bayangkan, berapa juta orang yang harus divaksin, nah, itu kan bisnis, padahal untuk membuat vaksinnya sangat mudah dan bahan bakunya dari tembakau yang tumbuh subur di Indonesia,” ujarnya.

Perlu diketahui, ada berbagai jenis tembakau Indonesia yang tidak bisa hidup di daerah lain, seperti tembakau madura, jember, dan tembakau temanggung. Percaya kan, bahwa Indonesia sebenarnya amat potensial mengembangkan inovasi dari kekayaan hayati kita?

Sumber: BBC

Foto: ikazeiwacu.fr