Teknopreneur.com- Jika dibilang kedelai Amerika kualitasnya lebih bagus tidak juga mereka hanya menang dalam sisi ukuran yang lebih besar. Namun untuk rasa, enakan juga kedelai Indonesia, kata Dr Ir Chandra Indrawanto, Kepala Bagian Kerjasama Hukum Organisasi dan Humas Balitbangtan.

Namun jumlah kedelai yang diproduksi oleh Indonesia masih belum mencukupi makanya Indonesia masih harus mengimpor dari luar. Di tahun 2013 kebutuhan kedelai di Indonesia mencapai 892,60 ribu ton biji kering kedelai namun baru bisa dipenuhi 779,99 ribu ton. Sehingga harus mengimpor 1.785 ribu ton. Dan di tahun lalu kebutuhan naik menjadi 2.700 ribu ton namun baru bisa memproduksi 892,60 ribu ton. Jadi jangan pernah salahkan jika kita masih mengimpor karena kebutuhan lebih tingga daripada kedelai yang bisa diproduksi.

Salah satu faktor yang menyebabkan kedelai sulit di tanam, karena di Indonesia lama penyinaran matahari itu hanya 12 jam. Sedangkan kedelai membutuhkan penyinaran yang lebih lama Berbeda dengan Amerika yang saat musim panas matahari lebih dari 12 jam menyinarinya..Selain itu tak semua lahan di Indonesia cocok di tanaman bahan baku untuk membuat tempe ini.

Chandra pun sedikit pesimis dengan pencanangan swasembada kedelai yang dilakukan presiden Jokowi. Agak sulit sepertinya melihat kebutuhan yang semakin tahun meningkat.  Meski begitu Balai penelitian dan pengembangan pertanian tetap melakukan inovasi salah satunya dengan memproduksi bibit unggul. 

Salah satu bibit unggul yang  sedang dikembangkan oleh Balitbangtan adalah Anjasmoro, Lokon, Guntur, Tidun,Lilis, Gajah, Siawi, Jayawijaya,Lawu,Lumajang, Grobogan, Lompu, Bresok, Dieng, Loka, Brebes, Raung dan Rinjani. Bibit yang paling unggul dan memprosuksi paling banyak menurut Chandra adalah Anjosmoro.