Teknopreneur.com- Harga minyak AS turun di bawah US$ 50 per barel pada hari Senin (5/1). Ini akan jadi sinyal  penurunan harga yang luar biasa (50%) sejak Juni tahun lalu, dan masih terus terjadi hingga awal tahun ini.

Penurunan di Amerika dan global (lebih dari 5%) disertai laporan peningkatan ekspor minyak Timur Tengah, dan peningkatan produksi Amerika menimbulkan kekhawatiran baru tentang nasib ekonomi di Eropa.

Karena penurunan harga minyak yang terus menerus terjadi, investor semakin melihat ini sebagai pertanda buruk bagi perekonomian global. Penurunan mungkin akan menunjukkan permintaan yang lebih rendah untuk minyak dan kegiatan ekonomi yang juga menurun. Dan penurunan ini nyatanya menunjukkan bahwa para pembuat kebijakan belum berhasil mengatasi ancaman deflasi.

“Tentu saja ada deflasi mind-set di pasar,” kata Jim Vogel, ahli strategi pasar utang untuk FTN Financial.

Menurut Tom Kloza, Kepala Global Analisis Energi untuk Pelayanan Informasi Harga Minyak, penurunan harga ini adalah awal yang sangat menggoyahkan bagi pasar minyak.

Minyak mentah West Texas Intermediate misalnya, turun di bawah US$50 per barel untuk pertama kalinya dalam lebih dari lima tahun, dan minyak mentah Brent, turun lebih dari 6% menjadi di bawah US$53 per barel.

Penurunan harga ini, telah menyebabkan pengumuman perusahaan minyak dalam beberapa hari terakhir untuk memotong investasi di bulan-bulan mendatang. Ensign Energy Services, kontraktor pengeboran Kanada, melaporkan ini akan merumahkan 700 pekerja, atau sekitar 10 persen dari angkatan kerja, di bidang California. Citi Research jyga memproyeksikan investasi global dalam eksplorasi dan produksi minyak akan menurun hingga 15% tahun ini.

Efek Lanjutan

Mungkin yang paling merasa bahagia dari anjloknya harga minyak dunia adalah konsumen. Termasuk masyarakat Indonesia. Sejak 1 Januari 2015 harga BBM seperti premium turun menjadi Rp 7.600/liter dari sebelumnya Rp 8.500/liter. Sementara pertamax dengan harga Rp8.700-Rp8.750 per dari sebelumnya sebesar Rp9.950 per liter.

Di Amerika, AAA auto club melaporkan pada hari Senin (5/1) bahwa harga rata-rata nasional untuk bensin biasa telah jatuh ke US$2,20 per galon (3,78 liter), 8 sen lebih rendah dari seminggu yang lalu, 51 sen lebih rendah dari bulan lalu, dan US$1,11 di bawah tahun lalu.

Terakhir kali harga minyak dan bensin turun rendah setelah runtuhnya keuangan di tahun 2008-2009, ketika minyak mentah jatuh lebih dari US$100, menjadi di bawah US$40 per barel dalam hitungan bulan. Analis energi mengatakan saat kemerosotan harga bersifat sama sekali berbeda, terutama didasarkan pada kelebihan minyak yang diproduksi di Amerika Serikat, bersama dengan peningkatan produksi di Kanada, Irak dan beberapa negara lainnya.

Sementara di tahun-tahun lalu Organisasi Negara Pengekspor Minyak terkadang setuju untuk mengurangi produksi untuk menopang harga, Arab Saudi dan produsen Teluk Persia lainnya telah memutuskan untuk melindungi pangsa pasar global mereka dengan memotong harga di Amerika Serikat dan pasar Asia.

Jika konsumen diuntungkan, maka tekanan lanjutan akan terjadi di  Eropa dan negara-negara berkembang akibat melemahnya permintaan produk minyak dan minyak bumi. Kelemahan ini diperparah dengan munculnya kendaraan yang semakin efisien dan Cina berupaya mengurangi ketergantungannya terhadap minyak.

Dan nyatanya efek dari peristiwa ini akan memukul negara penghasil minyak, mereka akan menderita secara ekonomi. Dengan proyeksi defisit anggaran sebesar US$ 3,5 miliar sementara Alaska telah mengumumkan penundaan dalam enam proyek infrastruktur penting, termasuk pipa gas di North Slope.

 

Sumber: nytimes.com

Foto: betawired.com