Teknopreneur.com- Dwi Susilaningsih mungkin sudah berhasil menemukan sistem biohodrogen, hasil penelitiannya di pusat penelitian bioteknologi LIPI yang bisa hasilkan listrik dari limbah biomassa. Tapi sayang bukan jika teknologi ini tak diterapkan. Padahal teknologi biohidrogen berpotensi jika diaplikasikan di daerah-daerah terpencil. Indonesia yang terdiri lebih dari 17.000 ribu pulau, masih banyak yang belum memiliki pasokan listrik yang stabil. PT perusahaan listrik negara mencatat di tahun 2013 saja  tingkat ketersedian listrik nasional (rasio elekrifikasi) rata-rata 80%, dan ternyata masih banyak daerah yang memiliki rasio elektrifikasi di bawah 60%. Letak perkampungan yang berjauhan menjadi masalah yang menyulitkan distribusi listrik.

Menurut Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, terdapat lebih dari 7000 pulau kecil yang kekurangan listrik akibat masalah geografis. Sebagai negara dengan keanekaragaman hayati terbesar di dunia, Indonesia memiliki biomassa yang berlimpah. Matahari yang bersinar dalam jangka waktu yang panjang menyediakan cahaya yang cukup bagi aktivitas fotosintesis sepanjang tahun. Faktor ini menjadikan Indonesia lokasi yang cocok untuk pengembangan biohidrogen.

Namun masalahnya kini adalah, model biohidrogen yang Dwi ciptakan masih memiliki kendala pada ranah engineering. Karena biohidrogen yang bisa diterapkan di lapangan harus dilengkapi oleh kontainer khusus karena daya ledak hidrogen sangat besar, sementara harga kontainer itu menurut Dwi amat mahal.

“Kalau para engineer dan para biochemist sudah bisa menciptakan kontainer murah, teknologi ini akan ekonomis,” ungkap Dwi.

 

Foto: www.brasilescola.com