Teknopreneur.com– Korea Utara mengecam Amerika Serikat. Menyatakan bahwa sanksi ekonomi yang mereka lakukan memancing permusuhan. Sebuah pernyataan Kementerian Luar Negeri Korea Utara mengatakan kebijakan AS menahan Korea Utara tanpa dasar.

Beberapa waktu lalu, Amerika Serikat menghantam Korea Utara dengan sanksi baru setelah FBI mengatakan Korea Utara berada di balik hack komputer bulan lalu di Sony.

Gedung Putih mengatakan perintah eksekutif baru menargetkan pemimpin di pemerintahan Korea Utara untuk mencegah mereka mengakses properti dan memasuki Amerika Serikat. Termasuk sanksi larangan akses ke sistem perbankan AS yang pada dasarnya berkaitan juga ke jaringan bank di seluruh dunia, sejak dana begitu sering ditransfer dalam dolar.

Jika dicermati, sanksi yang dikenakan oleh Presiden Obama sebenarnya hampir tidak ada hubungannya dengan cyber teroris melainkan menunjukkan perhatian AS dengan Korea Utara sebagai eksportir senjata ke rezim yang dibenci oleh AS seperti yang dilaporkan forbes.com. Beberapa bisnis senjata Korea Utara berbasis di Rusia, Namibia, Iran, yang mungkin menjadi pasar terbesar untuk rudal Korea Utara, juga berada di ibukota Suriah, Damaskus.

Sanksi ini dikeluarkan atas indikasi lebih lanjut dari kepercayaan mereka dalam kesalahan Korea Utara. Obama menandatangani perintah eksekutif tentang sanksi baru dan mengatakan Korea Utara bertanggung jawab atas serangan. Ini merupakan awal respon dari Gedung Putih.

FBI memang tetap mempertahankan Korea Utara berada di balik pelanggaran komputer luas di Sony, meskipun beberapa ahli teknologi mengatakan orang lain bisa terlibat, seperti mantan karyawan studio misalnya. Wah berawal daru kasus hack komputer Sony, justru malah berbuntut ke permusuhan antara dua negara yang berbuntut panjang ya.

 

Foto: www.huffingtonpost.com