Teknopreneur.com- Industri tebu adalah salah satu industri terbesar di Indonesia. Pertumbuhannya pun didukung oleh pemerintah. Apa kalian pernah berpikir mau dikemanakan limbah industri tersebut?

Dwi Susilaningsih dan rekannya di Pusat Penelitian Bioteknologi Lipi menciptakan solusinya. Sebuah sistem biohidrogen untuk menghasilkan listrik dari limbah cair industri tebu.

Hodrogen (H2), unsur nomor satu dalam tabel periodik berpotensi sebagai sumber energi bersih dan terbarukan. Hidrogen memiliki kepadatan energi terbesar dibanding bahan bakar lain serta proses pembakarannya tidak menghasilkan karbon dioksida (CO2), hanya air (H2O). Hidrogen juga dapat dikonversi menjadi listrik.

Selama ini, hidrogen umumnya diproduksi dengan reaksi elektrolisis air atau pembentukan uap metana. Biohidrogen adalah cara lain untuk menghasilkan hidrogen dari biomassa lewat proses fermentasi mikroorganisme. Cara inilah yang ditempuh oleh Dwi dan rekannya.

Prototipe biohidrogen LIPI ini terdiri dari tangki fermentasi, wadah gas, konverter gas, kultur aga, dan sambungan ke perangkat listrik berupa kipas angin atau mobil mainan. Gas hidrogen yang dihasilkan melalui tahapan seperasi (pemisahan) dan purifikasi (pemurnian)  bisa mencapai kemurnian 99%. Melalui alat ini 1kilowatt listrik dapat dihasilkan dari 650 L biohidrogen dengan efisiensi 47%. Dengan efisiensi itu, dibutuhkan 5 L limbah cair tebu untuk menghasilkan 1 kWh.

Dwi mengatakan limbah cair tebu termasuk jenis medium terbaik untuk biohidrogen karena memiliki kandungan utama gula yang dapat dengan mudah dikonversi jadi energi. Ia pernah bereksperimen dengan jenis limbah lain, yaitu biomassa kayu padat, limbah susu, limbah tahu, dan limbah kecap. Biomassa kayu dinilai bukan bahan yang baik untuk hidrogen karena membutuhkan beberapa proses pra perlakuan yang tidak murah. Sedangkan limbah cair organik memiliki banyak kandungan gula dan asam organik. Sehingga nilai efisiensinya masih di bawah limbah cair tebu. Rata-rata 50-60 L limbah cair organik dapat menghasilkan 1 kWh, 53 L untuk limbah susu dan kecap.Selain lebih efisien, biohodrogen juga dapat memberikan hasil sampingan berupa pupuk organik. Kultur alganya dapat dipanen dan dimanfaatkan untuk menghasilkan biodiesel atau pakan.

Secara umum, proses yang menghasilkan sumber energi dan hasil sampingan melalui proses biologis ini disebut biorefinery atau biokilang, seperti kilang minyak, tapi menggunakan biomassa.