Teknopreneur.com- Ada banyak makhluk mikroskopik di laut, tapi apa kalian tahu ada makhluk bernama mikroalga diatom yang memiliki peran penting bagi masa depan energi Indonesia. Kenapa? Karena sel-sel mikroalga mampu menghasilkan minyak laut yang berfungsi sebagai bahan bakar.

Diantara jenis mikroalga, alga diatom adalah sumber bioenergi yang menjanjikan karena menyimpan karbon dalam bentuk minyak alami dan hidup dalam jumlah besar di laut.

Zeily Nurachman, peneliti mikroalga dari kelompok keahlian biokima ITB,  mengatakan produktivitas biomassa rata-rata dari fitoplankton di kawasan laut tropis sekitar 50 g karbon/m2/tahun atau dua kali lebih besar dari produktivitas biomassa tanaman darat. Dengan kandungan minyak hingga 70% berat kering, mikroalga menghasilkan minyak laut sebanyak 80.000 L/ha/tahun dengan kedalaman kolam 1 m. Angka ini jauh melebihi produktivitas sawit yang hanya 6.000 L/ha/tahun.

Jika dihitung secara kasar, menurut Zeily seperempat dari panjang garis pantai Indonesia yaitu 20.000 kilometer sangat potensial untuk budidaya mikroalga laut. Lebar dari garis pantai ke arah laut lepas untuk tempat budidaya mikroalga adalah 1 km (di laut dangkal dapat mencapai 6-10 km). Ini berarti tersedia area setidaknya 2 juta ha, hanya 0,03% dari luas total Indonesia 600 juta ha.

Total produksi minyak laut yang akan diperoleh dari total area tersebut sebanyak 160 miliar L/tahun atau 2 juta barrel/hari. Lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan BBM. Perhitungan harga pokok produksi minyak daru mikroalga dapat ditekan hingga 75 dollar AS/barrel. Artinya harga minyak laut dapat bersaing dengan harga ninyak bumi. Ini bisa menjadi kekuatan Indonesia masa depan.

Zeily menjelaskan dengan memanfaatkan air laut sebagai medium, sinar matahari untuk fotosintesis, dan udara sebagai sumber karbon biaya yang dikeluarkan untuk produksi biomassa mikroalga nyaris nol. Dengan masa panen mikroalga hanya satu minggu.Proses ekstraksi minyak laut dari mikro alga juga terbilang mudah, cukup dengan tekanan hasilnya bisa langsung dibakar, tanpa melalui proses transenterifikasi seperti minyak nabati lain.

“Biaya terbesar diperlukan untuk membangun bioreaktor, wadah medium pertumbuhan mikroalga,” tambahnya.