Teknopreneur.com – Jika di media massa tak ingin meninggalkan cetak karena hidup ditopang lewat iklan, lain halnya bagi buku. Penulis justru diuntungkan. “Untuk menerbitkan buku penulis tak perlu penerbit karena bisa menerbitkan bukunya sendiri,”ujar Rully Nasrullah penulis lebih dari 300 buku.

Menurutnya kini telah banyak program desain yang bisa diunduh dan diaplikasikan sendiri. Bisa memfoto dan mendesain sendiri. Dengan adanya digital publishing pun tak mesti berusia 17 tahun dulu baru bisa menulis buku. Semua umur bisa menerbitkan sendiri bukunya.

Munculnya digital publishing pun membuat para penulis multitasking, karena dia harus mempromosikan bukunya sendiri. Dengan begitu dia jadi tau ceruk pasar bukunya

mau ia terbitkan kemana. Dia juga harus bisa mendesain buku, melayout, dan mengubah dari bentuk dokumen ke pdf.  Namun sebagai penulis  lebih dari 300 buku Rully agak kecewa karena banyak buku yang diterbitkan tanpa proses yang matang. Wajarnya buku terbit membutuhkan waktu tiga bulan.

Sebenarnya wajar prosesnya panjang karena untuk sekali mencetak buku penerbit membutuhkan modal 40-45 juta dengan harga normal berkisar Rp 20- Rp 40 ribu. Untuk biaya membayar editor, layouter, hingga marketing. Namun di digital publishing tak memerlukan modal besar, semua jenis buku bisa diterbitkan.

Sehingga bermunculan pula penulis-penulis instan, ada juga yang satu buku ditulis oleh 30-40 buku. Secara gairah menulis ini bagus namun secara proses ini terlalu instan. Akan banyak buku yang tak layak jual di pasaran. Sosok yang biasa disapa Kang Arul ini meski sudah menjual bukunya dalam versi digital namun ia masih berharap pada cetak.

Ia pun menyarankan bagi penulis awam agar tak menggantungkan perekonomiannya pada buku yang dijual di digital publishing. Pasti akan kecewa. Karena harga buku digital jauh lebih rendah dibandingkan dengan buku cetak. Versi digital pun belum banyak dikenal masyarakat karena perangkatnya mahal dan tak semua orang memilikinya