Teknopreneur.com- “Kita tidak mungkin menghentikan tsunami, tapi yang bisa kita lakukan adalah bagaimana memberikan informasi kepada masyarakat mengenai potensi tsunami,” – Hubert J Gijzen, Direktur UNESCO bidang Sains untuk Asia Pasifik

Tsunami Aceh telah berlalu satu dekade yang lalu. Sebuah tragedi gempa bumi terbesar yang pernah menghempas lepas pantai Indonesia, dan akhirnya memicu tsunami yang menyapu seluruh masyarakat di sekitar Samudra Hindia.

230.000 orang tewas akibat gempa berkekuatan 9,1 dan gelombang raksasa yang menabrak garis pantai pada 26 Desember 2004 itu.

Kejadian itu terjadi pada 07:58 waktu setempat, menarik miliaran ton air laut, yang kemudian berlari menuju garis pantai dengan kecepatan menakutkan. Perkiraan biaya kerusakan  saat itu diprediksi d bawah US$10 miliar.

Kini, banyak yang sudah berubah dari Serambi Mekah. Kota-kota pesisir dan desa telah membangun kembali masyarakat dan kehidupan mereka.

Meski itu sudah berlalu sepuluh tahun yang lalu, meski kota-kota telah banyak berbenah, dan meski sebenarnya ada beberapa selang waktu jarak antara gempa dan tsunami, namun ada yang perlu dicatat bahwa hampir semua korban pasti terkejut dengan kejadian tersebut. Salah satu alasannya adalah karena tidak memadainya sistem peringatan dini, sehingga tidak ada peringatan akurat yang memberitahukan agar orang-orang segera mencari tempat yang aman.

Ini Yang Membuat Sistem Peringatan Dini Begitu Penting

Jika ditanya apakah masyarakat Indonesia sudah bisa belajar dari tragedi tsunami? Maka jawabannya adalah belum. Kenapa? Mantan Kepala Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi Aceh, Kuntoro Mangkusubroto melalui bbc.co.uk mengatakan mayoritas orang cenderung untuk mengabaikan sesuatu yang akan terjadi setelah seseorang mati. Karena orang –orang cenderung melupakan sesuatu yang sudah terjadi. Hal ini membuat orang akan rileks setelah bencana besar terjadi, apalagi kurun waktu bencana tersebut tak bisa diprediksi dalam hitungan waktu. Berbeda kasus dengan gunung merapi yang akan menimbulkan kehati-hatian bagi penduduk sekitarnya karena gunung merapi yang berpotensi meletus setiap lima tahun sekali.

Tak salah bukan jika sistem peringatan dini begitu penting bagi masyarakat. Dan sebenarnya sejak tsunami 2004 yang melanda kawasan Samudra Hindia, Indonesia sudah mengembangkan sistem peringatan dini tsunami, namun seperti yang dikutip dalam kompas.com bahwa sejumlah kejadian gempa pasca tragedi itu menunjukkan peringatan dini yang kurang tepat (false response) masih terjadi.

Lihatlah, kasus false response yang terjadi saat gempa Chile bermagnitudo 8,2 pada 2 April 2014. Peringatan dini yang dirilis oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) justru memicu kepanikan.

Dalam peringatan dini tersebut disebutkan bahwa wilayah Indonesia yang berpotensi diterjang tsunami mencakup 115 lokasi kabupaten/kota di 19 provinsi. Tsunami dinyatakan berpotensi mencapai wilayah Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, dan lainnya.

Padahal menurut peneliti gempa dan tsunami dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi BPPT), Widjo Kongko, peringatan dini itu terlalu berlebihan karena prediksi gelombang tsunami yang mencapai Indonesia hanya setengah meter.

Kasus lainnya adalah gempa Pangandaran pada 17 Juli 2006 yang memicu tsunami setinggi 2 meter dan gempa Mentawai pada 25 Oktober 2010 yang juga menyebabkan tsunami.  Gempa lamban tersebut dikatakan Widjo membuat semua  terkecoh dan  merasa tsunami tidak akan terjadi.

Tak cukup hanya itu, false response lain terjadi dalam kasus gempa Aceh pada 15 April 2012. Gempa kembar di wilayah outer rise bermagnitudo cukup besar masing-masing 8,5 dan 8,1 dan menimbulkan tsunami kecil. Namun menimbulkan kepanikan yang serius karena dianggap akan terjadi tsunami besar.

Widjo mengatakan Indonesia  gagal memberikan warning secara akurat dan tepat karena data gelombang awal tsunami tidak terverifikasi dengan baik.

Ke depan hal semacam ini harusnya bisa diminimalisir atau bahkan tak terjadi lagi. Indonesia harus mampu memberikan peringatan dini tsunami yang lebih akurat dan tepat, mencakup informasi ketinggian, waktu kedatangan, dan wilayah mana yang mungkin terkena. Karena disadari atau tidak, instrumen peringatan dini sangat penting untuk mengetahui potensi “gempa tsunami” karena gempa ini nyatanya sulit ditebak hanya dengan sense saja.