Teknopreneur.com – Di kuartal ketiga tahun ini, perusahaan riset dan konsultasi sektor kesehatan internasional GlobalData menilai volume penjualan di pasar farmasi Indonesia berpotensi meningkat hingga menembus US$ 9,9 miliar atau Rp 114,5 triliun pada 2020. Menurut Executive Director Dexa Medica, Raymond Tjandrawinata, setuju dengan penilaian tersebut. Kata dia, industri farmasi memang akan tumbuh tapi lambat. Apa penyebabnya?

“Ini lantaran program JKN yang diberlakukan oleh pemerintah sehingga memperlambat tumbuhnya industri ini,” kata dia kepada teknopreneur.com. Untuk itu, mau tidak mau perusahaan yang digawanginya pun harus mengiringi kebijakan pemerintah dengan membuat obat generic. “Satu-satunya cara ya seperti itu dan melakukan inovasi,” tandasnya.

Meski begitu, melihat arah pemerintah membuat kebijakan seperti itu, tidak menyurutkan banyak perusahaan farmasi melebarkan bisnis salah satunya klinik. Masifnya perusahaan farmasi yang melebarkan sayap ke bisnis klinik semacam itu, enggan ditiru oleh Dexa. Pasalnya, kata dia, Dexa sudah berkomitmen akan terus menjadi perusahaan farmasi yang membuat obat. “Tidak, kami tak ingin melakukan seperti itu. Kami sudah berkomitmen untuk fokus di industri hulu farmasi,” ucapnya.