Teknopreneur.com- “Kita bisa mendaratkan komet, menemukan hidup di Mars tapi tidak bisa menemukan pesawat yang hilang di bumi,”

Begitu kalimat yang tertulis dalam sebuah twitter milik Rani Mukherji. Ironis memang, di saat semua teknologi menawarkan masa depan yang lebih baik, tapi nyatanya untuk sebuah pesawat hilang kita belum mampu memiliki teknologi jitu untuk menemukannya.

Tahun 2014 ini, sepertinya menjadi tahun yang sulit bagi penerbangan di Asia. Sebelum tragedi menghilangnya  pesawat AirAsia dengan nomor penerbangan QZ8501, maskapai nasional Malaysia, Malaysia Airlines telah mengalami dua tragedi kehilangan yaitu penerbangan MH370 dan MH17.

Penerbangan MH370 menghilang dalam penerbangan dari Kuala Lumpur ke Beijing pada bulan Maret dengan 239 penumpang dan awak. Reruntuhan diduga berada di Samudera Hindia selatan, dan hingga kini masih belum ditemukan. Sementara MH17 ditembak jatuh di atas Ukraina pada bulan Juli, menewaskan semua penumpang, 298 orang yang ada di dalam pesawat.

Dan Minggu pagi kemarin (28/12) tragedi pesawat hilang kembali terjadi. Kali ini menimpa pesawat AirAsia dengan nomor penerbangan QZ8501. Hingga kini pencarian terus dilakukan. Pesawat ini dinyatakan hilang kontak di sekitar Teluk Kumai pukul 06.17 WIB dalam penerbangan dari Surabaya menuju Singapura. Di dalamnya terdapat 155 penumpang dan sebagian besar adalah warga Indonesia.

Kepala Badan SAR Indonesia dikutip dari BBC.com mengatakan bahwa informasi yang tersedia menunjukkan bahwa pesawat bisa berada di dasar laut. Namun, sejauh ini tidak ada bukti yang telah ditemukan dari keberadaan pesawat itu. Sebelum hilang kontak, para pilot telah meminta perubahan karena cuaca buruk tapi tidak mengirim panggilan darurat sebelum pesawat lenyap dari layar radar.

Bambang Soelistyo, Kepala Badan SAR Indonesia mengatakan dalam konferensi pers di Jakarta bahwaBerdasarkan koordinat yang diberikan kepada mereka dan evaluasi posisi kecelakaan diperkirakan adalah di laut. Hipotesis sementara pesawat berada di dasar laut.

“Itu dugaan awal dan dapat mengembangkan berdasarkan evaluasi hasil pencarian kami,” katanya.

Pencarian telah dilakukan di dekat Pulau Belitung, sebagian besar diberhentikan ketika malam tiba.  Sementara beberapa kapal tetap melanjutkan pencarian.

Berbagai upaya juga telah dilakukan untuk menemukan pesawat tersebut. Soelistyo mengatakan Indonesia telah menyediakan 12 kapal, tiga helikopter dan lima pesawat militer. Selain itu, Ketua Komite Keselamatan Nasional Transportasi, Tatang Kurniadi juga menambahkan bahwa tugas utama mereka adalah untuk menemukan pesawat.

“Kami bekerja sama dengan setiap departemen mungkin, dan negara-negara yang relevan, termasuk departemen yang bertanggung jawab untuk desain pesawat, produsen pesawat dari Prancis, dan tim operasional yang relevan dari AirAsia dan Malaysia.”

Menanggapi insiden ini, Bos AirAsia Tony Fernandes mengatakan ini adalah  mimpi terburuk nya. Ia terbang ke Surabaya dan kemudian mengatakan pihaknya sangat terpukul dengan apa yang terjadi.

“Itu sulit dipercaya,” ungkapnya.

Ia menambahkan saat ini perhatian mereka adalah untuk kerabat dan keluarga terdekat.

“Tidak ada yang lebih penting bagi kami, bagi keluarga awak kami, dan bagi keluarga para penumpang.”

Andai saja ada teknologi canggih yang mampu menemukan di mana pesawat AirAsia QZ8501 berada saat ini.

 

Foto: www.bbc.co.uk