Teknopreneur.com – Aku cinta produk dalam negeri buktinya apa? tanya Sekretaris Jenderal Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Sapto Anggor kepada mahasiswa dalam acara Mobile Developer Gathering (20/12). Menurutnya kalimat ‘Aku Cinta Produk Dalam Negeri’ hanya sebagai kiasan saja. Buktinya saja kalo ada software atau produk dalam negeri yang berbau-bau Indonesia hanya dipandang sebelah mata.

“Bahkan aplikasi yang dijual di playstore atau google store yang asli Indonesia namanya justru berbau ke barat-baratan. Mengapa namanya PicMix, tidak Gambar Campuran atau Kocok Gambar? Kenapa namanya harus Hello Motion tidak ada Indonesia-Indonesianya. Aneh sekali,”keluhnya.

Serupa dengan Sapto Prof BJ Habibie pun pernah mengatakan hal yang serupa. Branding itu menentukan suatu produk laku di pasaran. Orang Indonesia itu belum-belum sudah menyimpulkan sendiri kalo buatan dalam negeri. Pasti cepat rusak, pasti murahan, pasti tidak awet. Jangankan produk teknologi, buah-buahan saja yang sama-sama asal lokal dan dijual di tempat yang sama namun diberi merk yang beda. Yang dibeli lebih banyak yang brandingnya luar negeri. Misalnya saja Jeruk Bali dengan Jeruk Thailand, orang akan lebih mengincar yang Thailand. Karena sudah stigmanya yang memang sulit untuk diubah.

Sandy Colondam, co-founder PicMix, membenarkan bahwa branding memang sangat berpengaruh bagi pemasaran. Makanya namanya PicMix tidak menggunakan bahasa Indonesia. Dan sebelum usernya mencapai satu juta, mereka belum mengaku ke publik bahwa asli Indonesia. Karena memang agak sulit meyakinkan orang Indonesia bahwa software lokal pun tak kalah dengan software internasional. Setelah usernya mencapai satu juta baru PicMix mengatakan asli Indonesia. Dari sana baru user percaya bahwa buatan lokal memang tak selalu kalah dengan buatan internasional.