Teknopreneur.com – Beberapa waktu yang lalu, Baidu menemukan bahwa smartphone menjadi perangkat yang paling banyak dan paling sering digunakan untuk mengakses internet di Indonesia. Sebanyak 59,9% responden mengakses internet melalui smartphone. Perangkat lainnya yang digunakan adalah laptop, PC, Tablet, dan Netbook. Potensi ini jelas dapat dimanfaatkan oleh developer mobile Indonesia untuk masuk dalam persaingan aplikasi. Pasar yang potensial itu, nyatanya masih timbul keraguan-keraguan tentang SDM yang mumpuni. Benarkah Indonesia masih kekurangan SDM dibidang ini?

Pengamat IT, Richardus Eko Indrajit mengatakan bahwa sejatinya SDM yang dimiliki Indonesia sangat banyak. Namun, dari mereka masih kurang jeli menangkap peluang yang ada. “Pasar mobile itu luar bisa besar sekali. Satu orang saja bisa memiliki dua mobile. Dikalikan saja jumlah orang yang ada di negeri ini. Ini kan pasar yang besar. Namun, sayangnya masih ada yang kurang bisa menangkap peluang yang ada,” jelasnya.

Dirinya pun mencontohkan ide sederhana yang mungkin bisa diterapkan oleh para developer mobile dengan guyon. “Bagi orang awam yang tak terbiasa naik pesawat, biasanya kan mereka khawatir saat ada turbulence. Apalagi jika seluruh penerbangan di Indonesia sudah diperbolehkan wi-fi. Ini potensial sekali. Mengapa? Aplikasi itu bisa bekerjasama dengan asuransi. Jadi, ketika ada turbulence terjadi dengan otomatis layar ponsel penumpang keluar tanda ‘apakah anda akan melakukan asuransi tambahan pada penerbangan?’,” ucapnya diiringi tawa peserta Mobile Development Gatehring (MDG) di Kampus Binus University, Serpong (Sabtu, 20/12).

Bagi dia, ide sederhana dapat didapatkan di mana saja, asal peka terhadap situasi dan lingkungan sekitar. Jika kepekaan developer mobile menangkap peluang, maka sebuah keniscayaan banyak aplikasi buatan anak negeri yang mampu mengalahkan aplikasi dari luar negeri.