Teknopreneur.com – .M Andy Zaky, Wakil Sekertaris  I Dewan TIK Nasional mengatakan di Era 2000 -an Industri TIK ternyata tumbuh pesat tanpa terencana padahal broadband plan Indonesia baru saja diluncurkan ketika Presiden SBY akan turun jabatannya. 

“Meski nyatanya perencanaan datang terlambat. Kita (Pemerintah, Akademisi, Industri) harus tetap mendorong industri TIK tetap tumbuh. Walaupun di tengah jalan ada yang mati sebelum berkembang. Jika dibilang produk TIK yang dihasilkan Indonesia kalah dengan buatan luar kata siapa. Indonesia punya media sosial seperti WhatsApp bernama Zohib, serupa instagram bernama Pic Mix, punya games bersetara internasional bernama Agate,”kata CEO PT Teknopreneur Indonesia ini dalam acara Mobile Developers Gathering (20/12)).

Serupa dengan Zaky, Henri Kasyfi Soemartono, Ketua Umum Klik Indonesia, mengatakan hal yang sama. Terkadang orang Indonesia kesyikan menggunakan media sosial asik hingga ia tak sadar hampir seluruh data privasinya dipublish. Dari 251,2 juta jiwa penduduk  di Indonesia 70 juta jiwanya adalah pengguna media sosial. Pengguna facebook di Indonesia kini mencapai 64 juta jiwa, Google mencapai 613.318 jiwa, Twitter 29 juta jiwa, dan lainnya.

Tak hanya data pengguna media sosial ternyata tak sadar bisa memberikan uang untuk media sosial buatan luar. Sebesar US$500 juta Twitter US$120juta, dan gabungan media sosial seperti Linkedin,Google+,WhatsApp,Line  dan lain-lain juga mencapai US$500 juta. 

Karena pengguna media sosial yang banyak tersebut penduduk Indonesia ternyata bisa memberikan uang untuk negara tetangga mencapai US$500 juta Twitter US$120juta, dan gabungan media sosial seperti Linkedin, Google+, WhatsApp,Line dan lain-lain juga mencapai US$500 juta. Itu kan amat disayangkan ternyata orang Indonesia membuang secara tak sengaja uangnya hanya untuk media sosial buatan luar.

Harusnya orang Indonesia tidak bangga, menjadi pengguna FB terbanyak, twitter terbanyak itu menunjukkan bahwa orang Indonesia malas. Mau nya jadi pengguna saja. Meskipun aplikasi seperti FB atau twitter sudah ada, tetap saja jadi nomor dua karena tak mau ikut merekomendasikannya.” Jika memang cinta Indonesia ya turut menggunakannya, turut merekomendasikan kepada temannya bahwa ada aplikasi lokal yang tak kalah dengan luar. Dengan begitu data privasi kita bisa terjaga dan tak membuang uang percuma ke negara tetangga,”tambah Richardus Eko Indrajit  Akademi sekaligus Pakar IT ini.