Teknopreneur.com – Menurut laporan Akamai Technologies tahun lalu, Indonesia berada diperingkat satu sebagai negara pembajak terbesar di dunia mengalahkan China. Dilansir dari Techinasia (17/12) Indonesia juga merupakan tempat dimana software bajakan dipakai dimana-mana oleh satu individu maupun di dunia bisnis. Karena software bajakan sering mengandung malware berbahaya, penggunaan software yang tidak otentik secara meluas di Indonesia berpotensial membawa potensi ancaman besar tiap harinya kepada infrastruktur digital bangsa.

Hal ini sesuai dengan Undang-undang Hak Cipta negara No. 28/2014, yang member amanat bahwa pemerintahan Indonesia harus melindungi konsumen dan bisnis dari bahaya kejahatan digital, karena hampir semua software dibajak.

Budi Widjanarko selaku komisaris polisi Jakarta mengungkapkan serangan cyber crime dan malware telah menjadi masalah utama, data dari suatu individu atau organisasi dibajak tiap harinya, dan beberapa dari orang-orang dan perusahaan telah dimanipulasi sehingga data mereka hilang secara bersamaan. Ia menambahkan Polisi akan berkomitmen untuk membantu masyarakat dan lembaga menjadi lebih sadar akan pentingnya online security dan penggunaan perangkat yang asli.

Presiden Direktur Microsoft Indonesia Andreas Diantoro mengungkapkan jika hukum hak cipta lokal dipatuhi dengan baik, produktivitas dan efisiensi dalam bisnis di Indonesia pasti bisa meningkat. Microsoft kehilangan banyak uang bila orang-orang membajak software dibandingkan membelinya.

 

Penulis: Aswin