Teknopreneur.com – Indonesia menduduki peringkat ke empat dalam sosial media. Dari 251,2 juta jiwa penduduk  di Indonesia 70 juta jiwanya adalah pengguna media sosial. Dengan rata-rata waktu berseluncur di medsos adalah 2 jam 54 menit.

Namun sayang media sosial yang digunakan justru media sosial bukan buatan sendiri.  Padahal kini sudah tumbuh beberapa media sosial buatan dalam negeri.  Pengguna facebook di Indonesia kini mencapai 64 juta jiwa, Google mencapai 613.318 jiwa, Twitter 29 juta jiwa, dan lainnya.

Karena pengguna media sosial yang banyak tersebut penduduk Indonesia ternyata bisa memberikan uang untuk negara tetangga mencapai US$500 juta Twitter US$120juta, dan gabungan media sosial seperti Linkedin,Google+,WhatsApp, Line  dan lain-lain juga mencapai US$500 juta.  Itu kan amat disayangkan ternyata orang Indonesia membuang secara tak sengaja uangnya hanya untuk media sosial buatan luar.

Henri Kasyfi CEO Klik Indonesia mengatakan dengan banyaknya pengguna media sosial yang ada data Indonesia dengan mudah didapat oleh mereka. Sehingga sedikit demi sedikit data rahasia negara kita terungkap. Tak menuntut kemungkinan Indonesia akan kembali dijajah.  Apalagi jika kebijakan Desa Online dan Cloud Computing disetiap titik di Indonesia jadi terlaksana. Tak ada rahasia lagi negara kita. Berarti gampang sekali dijajahnya.

“Namun sulit agar masyarakat Indonesia mau menggunakan medsos buatan sendiri. Dengan berbagai alasan. Dari yang sudah terlanjur menggunakan medsos yang lama, baru sedikit yang menggunakan sampai belum terkenalnya medsos buatan Indonesia,”kata Henry saat rapat bersama Dewan TIK Nasional (17/12).

Dewan TIK nasional yang dipimpin oleh Ilham Habibie, menyetujui usulan dari Henry namun memang agak sulit jika harus mengajak masyarakat Indonesia yang kini memang lebih menggemari buatan luar meski buatan sendiri tak jauh canggihnya. Mungkin bisa dimulai dari pemerintah dulu atau diusulkan untuk membuat kebijakan  seluruh masyarakat diwajibkan untuk menggunakan media sosial dalam negeri.

Begitu juga Menkoinfo, Rudiantara, ia mengatakan bahwa akan mencoba mengajak  venture kapital dalam negeri akan mau berinvestasi ke developer dalam negeri. Dengan begitu kita tak membuang dengan percuma uang ke luar negeri.  Karena kalau menarik venture kapital luar negeri justru developer kita yang pintar-pintar ditarik ke luar negeri. Kalo begitu kapan majunya negeri sendiri.