Teknopreneur.com- Kesadaran akan tingginya ketergantungan pada bahan bakar impor tak hanya terjadi di Indonesia saja. Hal ini juga terjadi di Turki. Dengan naiknya permintaan listrik 7% per tahun, membuat Turki semakin berkomitmen untuk beralih ke pengembangan sumber daya dalam negeri untuk memenuhi permintaan. Hal ini didukung dengan kondisi geografi yang menguntungkan, faktor-faktor ini telah terlihat dalam pembangunan PLTA di sana.

Menanggapi hal ini, Perusahaan Transmisi Listrik Turki mengatakan permintaan angka listrik diperkirakan akan mencapai sekitar 420 TWh pada tahun 2020.

Tak bisa dipungkiri dengan lanskap pegunungan dan posisi antara tiga laut, Turki memiliki kapasitas PLTA yang signifikan, diperkirakan total memiliki potensi sekitar 433 TWh, 140 TWh di antaranya dianggap ekonomis.

Pada ketinggian rata-rata 1.100 meter di atas permukaan laut, sungai Efrat dan Tigris memiliki cekungan sekitar 1.300 meter, selain itu juga ada sejumlah daerah lain termasuk daerah sekitar Laut Hitam, Laut Tengah, dan Timur Anatolia.

Mengingat geografi memberikan kesempatan yang cukup untuk pengembangan pembangkit listrik tenaga air di sana, eksploitasi sumber daya yang besar ini mulai dipercepat. Meski program ini telah dimulai sejak tahun 2003. Dan sampai hari ini, 60 persen dari potensi tenaga air di Turki  tetap berkembang. Turki memiliki lebih dari 500 pembangkit listrik tenaga air yang beroperasi dengan kapasitas gabungan lebih dari 15 GW, juga memiliki lebih dari 15 GW  kapasitas tenaga air yang saat ini sedang dibangun.

 

Foto: www.dailysabah.com