Teknopreneur.com- Untuk memastikan masyarakat global terus mengikuti era baru dari komputasi, sangat penting bagi para pengguna untuk bisa merasakan secara langsung keuntungan dari era tersebut. untuk instannya, kita melihatnya melalui dibangunnya sebuah kota menjadi smart city, dengan tujuan memberikan penduduk maupun pengunjung kota tersebut pelayanan yang berkualitas. Salah satu kota di Asia Tenggara yang sedang menerapkan teknologi canggih untuk membangung infrastruktur sebagai smart city adalah kota Da Nang, Vietnam.

Hal ini seperti yang dikatakan Genevieve Bell, Vice President, Intel Labs; Intel Fellow and Director of User Experience Research bahwa dalam beberapa tahun mendatang, masyarakat akan melihat munculnya smart city.

Bell melanjutkan enterprises membutuhkan era persaingan kepentingan dan menjaga mana yang akan menguntungkan melawan mana yang akan bermanfaat bagi penduduk. Pertanyaan selanjutnya untuk smart city, adalah bagaimana kota tersebut akan mengoptimalkan pelayanan yang akan menguntungkan penduduknya.”

Namun, tak hanya di Vietnam saja, di Indonesia pun kita telah memulai membangun konsep kota pintar yang diprakasai oleh PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom). Melalui akun websitenya, Telkom berharap dapat mengimplementasikan framework smart city di 20 kota besar di Indonesia hingga akhir 2014 mendatang.

Program smart city ini diharapkan menjadi “IT enabler” agar bisa men-drive perubahan budaya, mengubah sumber daya manusia (SDM) agar lebih cepat tanggap terhadap teknologi.

Sejak Agustus lalu, proyek smart city pertama sudah mulai beroperasi di kota Makassar. Dengan optimalisasi penggunaan sistem teknologi informasi pada sistem pemerintahan (e-Government) Makasar, dan diharapkan dapat menciptakan lingkungan kerja yang efektif, efisien, serta transparan.

Program smart city di Makasar ini sejalan dengan visi Walikota, Mohammad Ramdhan Pomanto untuk menjadikan Makassar sebagai kota pintar. Dengan jumlah penduduk lebih dari 1,8 juta jiwa, tingkat penetrasi internet di Makassar sudah lebih dari 40 persen.

Untuk memuluskan proyek ini, infrastruktur telekomunikasi seperti fiber optik, Wi-fi, serta 3G/HSDPA pun terus dibangun untuk mendukung jaringan broadband. Hal ini pula yang membuat Makassar akhirnya menjadi salah satu kota yang menerima penghargaan Indonesia Digital Society Award 2014 dari Telkom.

Saat ini menurut Achmad Sugiarto, EGM Telkom Divisi Solution Convergence sudah ada 5 layanan aplikasi smart city yang bisa dimanfaatkan oleh pegawai pemerintah kota maupun oleh masyarakat Makassar melalui situs http://makassartidakrantasa.com.  

Layanan pertama adalah e-Office, yang telah digunakan oleh 137 pengguna di seluruh SKPD Makassar. Kedua adalah e-Kelurahan yang sudah berjalan di 11 Kelurahan di Kecamatan Panakukang. e-Kelurahan mempermudah pengelolaan administrasi data kependudukan. Ketiga adalah layanan kesehatan terpadu ePuskesmas di 10 Puskesmas dan Dinas Kesehatan Kota Makassar.

Layanan keempat adalah Makassar Tidak Rantasa, yang merupakan media bagi masyarakat untuk menyampaikan keluhan ke pemerintah untuk ditindak lanjuti secara langsung. Dan terakhir adalah Kuciniki (saya melihat anda), sebuah aplikasi berbasis lokasi untuk memonitor kinerja staf pemerintahan.

“Menggunakan teknologi U-track dari Telkom, aplikasi yang hanya diaktifkan pada jam kerja ini mulanya akan digunakan untuk para lurah. Harapannya agar pelayanan pegawai pemerintahan kota Makassar semakin baik,” terang Anto.

Lebih lanjut Anto mengatakan implementasi Smart City di Makassar akan menjadi contoh bagi kota-kota lain dalam menerapkan konsep kota pintar, sebagai konsep pemanfaatan ICT yang dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi di setiap kota, dan akan menjadi solusi bagi berbagai persoalan kota di masa depan.

Bagaimana dengan Jakarta?

 Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, beberapa hari lalu baru saja meresmikan sarana interaksi dengan warga dengan teknologi berbasis online melalui aplikasi Jakarta smart city. Aplikasi ini akan menjadi  sarana pengaduan warga, yang terhubung dengan situs resmi Pemprov DKI Jakarta www.jakarta.go.id itu akan terkoneksi dengan 300 close circuit televisi (cctv) milik Pemprov DKIyang tersebar di berbagai wilayah Ibukota. Tak hanya 300 cctv, Januari nanti Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan menambahkan 500 cctv lagi.

Menanggapi hal ini, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengatakan kepada wartawan bahwa ia mengaku bangga dengan telah diresmikannya aplikasi Jakarta Smart City. Dengan adanya sistem aplikasi tersebut, ia dapat langsung memantau dan menindaklanjuti seluruh keluhan dan aspirasi langsung dari warga Jakarta.  Termasuk mengawasi kinerja lurah, camat, serta seluruh perangkat daerah dalam merespons keluhan serta laporan publik.

Bagi Ahok, smart city itu merupakan konsep yang mewujudkan model baru pemerintahan yang melibatkan warga dalam pembentukan kebijakan publik.

Masyarakat tentu akan mendukung terbentuknya program smartcity ini, namun upaya yang telah dilakukan di Makasar maupun Jakarta masih harus terus dikembangkan lebih lanjut. Karena konsep smart city nyatanya tak hanya soal aplikasi dan cctv, tapi juga keseluruhan ekosistem di dalamnya. Mulai dari sistem transportasi, sistem pelayanan masyarakat, sistem telekomunikasi, sistem pembayaran, masalah air, bangunan, energi, dan keselamatan publik  harus tehubung satu sama lainnya.