Teknopreneur.com- Meskipun sumber pembangkit listrik tenaga air berlimpah di Turki, namun nyatanya energi dalam negeri masih didominasi oleh bahan bakar fosil. Saat ini, pasokan gas sekitar sepertiga dari total kebutuhan energi primer di negara itu, sedangkan batu bara dan produk minyak masing-masing menyediakan 27% dan 29%.

Sebagian besar minyak dan gas berasal dari Iran dan Rusia. Sementara pembangkit listrik tenaga air, angin, dan energi terbarukan lainnya memproduksi sekitar 17 persen dari pasokan listrik Turki.

Namun, dalam upaya untuk menurunkan pangsa gas alam menjadi kurang dari 30% dari total pasokan energi, pemerintah telah memperkenalkan kebijakan diversifikasi pasokan energi dengan mendukung sumber-sumber dalam negeri pada khususnya.

Sebagai bagian dari kebijakan itu, energi terbarukan, termasuk tenaga air, telah menjadi penerima manfaat dari feed-in tarif (FIT)N  untuk mendorong perkembangan Turki. Dalam kasus proyek pembangkit listrik tenaga air operasi dimulai sebelum akhir 2015, FIT yang ditetapkan  adalah US$ 0,073/ kWh (€ 0,056 / kWh).

Reformasi lain yaitu mempercepat investasi swasta di sektor energi, produsen listrik swasta memasok sekitar 26 TWh energi setiap tahunnya. Selain itu, pemerintah juga akan mentargetkan di tahun 2023 dapat memberi 30 persen kebutuhan energi primer dari energi terbarukan.

Dalam contoh lain dari langkah-langkah kebijakan yang mendukung, Badan Pengatur Pasar Energi (Emra) telah menerapkan pembebasan biaya lisensi bagi investor energi terbarukan.

Didier Mallieu, Wakil Presiden PLTA dan Energi Terbarukan di perusahaan konsultan Poyry, menjelaskan bahwa ada kemampuan teknik yang signifikan di Turki dan perusahaan-perusahaan engineering berkomitmen untuk bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan Eropa terutama Barat untuk bersama-sama mengembangkan dan proyek PLTA.

“Banyak pemain di pasar Eropa, yang tertarik untuk memperoleh proyek-proyek atau aset di Turki dua, tiga, empat tahun lalu,” katanya.

Namun, ia mengatakan dalam pelaksanaan proyek ini terdapat bebrapa kendala, seperti masalah keungan. Mallieu menambahkan yang tersisa dari proyek ada, sedikit lebih sulit untuk dikembangkan dan mungkin memerlukan harga pasar yang lebih tinggi, ini kemudian menjadi alasan mengapa terjadi  perlambatan dalam proses pembangunan.”

Mallieu mengatakan bahwa perlambatan adalah  hal yang wajar, di mana investor memiliki kecenderungan untuk menunda investasi sampai mereka yakin bahwa penambahan kapasitas sejalan dengan pertumbuhan permintaan.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa fenomena seperti itu diatasi oleh Turki dengan pembatalan lisensi pembangkit listrik yang sekarang tidak akan maju.

Mallieu juga menyoroti faktor-faktor lain yang mempengaruhi pembangunan PLTA baru, misalnya, bersama dengan target ambisius energi terbarukan, pemerintah juga ingin mengembangkan sumber rendah-karbon lainnya, seperti nuklir, dengan rencana untuk tenaga nuklir bisa memasok sekitar 5% dari pasokan listrik negara, sekitar 5 GW.

Dalam sektor energi terbarukan, PLTA juga akan bersaing dalam hal investasi dengan teknologi angin dan matahari, yang pasti membutuhkan jauh lebih sedikit investasi di muka dan biasanya memiliki pengembangan dan return on investment periode yang jauh lebih pendek juga.