Teknopreneur.com – Dari tahun ke tahun, pembajakkan software selalu menjadi kerugian yang amat besar bagi para pengusaha. Pasalnya, nilai yang dirugikan bisa mencapai angka triliunan. Hal ini seperti yang diutarakan oleh Ketua Asosiasi Piranti Lunak Indonesia (ASPILUKI), Djarot Subianto. Menurutnya, kerugiannya itu memang tidak bisa secara pasti diprediksikan. Namun, potensi yang bisa didapatkan jauh di bawah 12.8T.

“Karena pertama 86% tersebut umumnya adalah di SW retail atau menengah ke bawah. Untuk software besar dan perusahaan jauh di bawah persentase tersebut. Sehingga software bajakan tidak semua digunakan secara komersial, maka dasar perhitungan berdasarkan potensi tersebut adalah hipotesis,” ungkapnya saat dihubungi Teknopreneur.com, (Rabu, 17/12).

Melihat hal itu, maka dirinya pun menekankan untuk mengatasi pembajakkan software dengan tiga cara di antaranya pertama melalui SaaS (Software as a Service) sehingga solusi tersedia dengan biaya terjangkau. Kedua melalui pengembangan solusi alternatif berbasis open source. Ketiga melalui edukasi dan pelatihan pengelolaan aset software (khususnya bagi organisasi/ perusahaan)

Berdasarkan Studi Forensik Komputer di wilayah Asia Tenggara pada 2013, terungkap dari pemeriksaan ahli forensik ditemukan sebanyak 59.09 persen dari sampel HDD (Hard Disc Drive) terinfeksi malware, sedangkan 100 persen dari sampel DVD software (piranti lunak dalam bentuk cakram optik) terinfeksi malware.