Teknopreneur.com – Beberapa hari ini memang sudah tersiar kabar jika harga minyak merosot ke posisi terendah. Ini sudah terjadi dalam lima tahun di perdagangan Asia. Hal ini setelah pejabat OPEC mengatakan penurunan harga yang terus bergulir bukan lantaran dikarenakan banjir pasokan global.

Melainkan, menurut pengamat pasar minyak, kemerosotan harga dengan banjir pasokan didorong oleh meningkatnya produksi minyak serpih AS.

Hal ini terjadi karena berdasarkan laporan dari AFP yang mengatakan bahwa AS minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari turun 25 sen menjadi 57,56 dolar, sementara minyak mentah Brent untuk pengiriman Januari turun satu sen menjadi 61,84 dolar pada perdagangan siang.

Menanggapi hal ini, sekretaris jenderal Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC), beranggotakan 12 negara pada Minggu mengatakan bahwa itu bukan satu-satunya alasan.

“Kami ingin tahu alasan utama yang menyebabkan penurunan dalam harga minyak,” kata Badri kepada wartawan di sebuah konferensi di Dubai yang dilansir dari antara.

Apakah ini petanda bangkitnya energi terbarukan? Di Indonesia, potensi ini kerap kali menjadi perbincangan yang cukup menarik. Pasalnya, menurut Sekretaris Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (Sesditjen EBTKE) Djadjang Sukarna, potensi energi baru terbarukan Indonesia bisa mencukupi kebutuhan energi Indonesia hingga 100 tahun mendatang.

“Potensi energi baru terbarukan kita masih cukup untuk 100 tahun lagi atau setara dengan 160 Gigawatt (GW) yang bisa dikembangkan menjadi listrik,”ujarnya.

Menurut dia, dengan potensi sebesar itu, maka wajar jika pemerintah menggalakan dan mendorong pengembangan energi baru terbarukan, di samping itu mengingat saat ini cadangan energi fosil khususnya minyak bumi terus mengalami penurunan.