Teknopreneur.com – Menurut Direktur Eksekutif ICT Institut, Heru Sutadi, desa online sudah seharusnya diterapkan oleh Indonesia sejak beberapa tahun yang lalu. Namun sayangnya, hal tersebut belum juga dilaksanakan.

Dirinya mengatakan bahwa akses internet di tiap desa merupakan kebutuhan, bahkan bukan cuma internet biasa tapi sudah broadband. “Ini yang harusnya sudah beberapa tahun lalu selesai, tapi masih terkatung-katung,” kata dia saat dihubungi teknopreneur.com, (Selasa,16/12).

Heru pun berharap setelah ada akses broadband, maka tiap desa hendaknya memiliki informasi secara online, dan juga menghasilkan 1 aplikasi unggulan, yang kalau dilakukan, maka akan 77 ribu aplikasi di seluruh Indonesia. “Ini merupakan cikal bakal indonesia digital society. Sekarang internet baru masuk di 5700 kecamatan, belum masuk desa-desa,” ucapnya.

Meski begitu, dirinya tak menampik kendala-kendala yang akan terjadi seperti kendala finansial, listrik, dan lain sebagainya. “Tapi harus diupayakan semaksimal mungkin. Targetnya, sesuai komitmen harus di 2015, tapi molor setahu dua tahun nampaknya masih bisa diterima,” paparnya.

Dalam program kerja pemerintah baru ini terkait dengan salah satu Nawa Kerja Prioritas Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi tahun 2015 yakni Sistem Informasi Desa Online yang bertujuan untuk mengangkat martabat Desa sebagai subjek pembangunan bukan lagi sebagai objek pembangunan.

“Hal ini sejalan dengan agenda prioritas pembangunan dalam konsep Nawa Cita Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, yakni membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan Desa dalam kerangka Negara kesatuan,” ungkap Menteri Desa, Marwan Jafar saat meresmikan website Desa Online, dengan jaringan koneksi on line di 5.000 desa, di Kantor Ditjend PMD yang dilansir dari berbagai media.